REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Negeri-negeri mesiu” atau gunpowder empires merupakan istilah yang digunakan oleh Marshall GS Hodgson dalam buku The Venture of Islam. Sejarawan dari Universitas Chicago itu merujuk pada tiga imperium Islam yang berjaya di Asia usai pudarnya Imperium Mongol pada abad ke-14 M. Ketiganya adalah Turki Utsmaniyah, Safawiyah, dan Mughal. Masing-masing berpusat di Anatolia, Persia, dan India.
Hodgson menjelaskan, bubuk mesiu mengubah situasi geopolitik dunia jelang era modern. Benda yang mudah meledak itu pertama kali ditemukan di Cina pada abad kesembilan. Kira-kira 100 tahun kemudian, para kaisar menggunakannya untuk persenjataan.
- Alumni UNM Jadi CEO, Erlan Bachtiar Tekankan Pentingnya Mental Kuat Bangun Bisnis di MOKA SERASI
- Gaya Rambut Putri Kim Jong-un Dilarang Ditiru di Korut
- Lazzarini Minta Pembentukan Komisi Tingkat Tinggi untuk Selidiki Kematian 390 Pekerja UNRWA di Gaza
Bangsa Arab mulai mengenal bahan peledak itu sejak bala tentara Mongol menginvasi Asia barat pada awal abad ke-13 M. Pada 1240 M, Hasan al-Rammah menjadi ilmuwan Muslim pertama yang meneliti pembuatan mesiu. Hasil risetnya termaktub dalam Al-Furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Kitab Militer dan Alat Perang Cerdik). Sarjana kelahiran Syam itu menyebut bubuk mesiu, kembang api, dan roket berturut-turut sebagai “salju”, “bunga”, dan “panah” Tionghoa.
Dalam hal pemanfaatan mesiu untuk kepentingan militer, kaum Muslimin mendahului bangsa-bangsa Eropa-Kristen. Dibandingkan dengan kedua daulah lainnya yang disebutkan dalam tulisan Hodgson, Utsmaniyah adalah pelopor dan cukup sukses. Setidaknya sejak zaman Bayezid I, kerajaan Islam ini telah menggunakan artileri di pelbagai pertempuran, termasuk pengepungan Konstantinopel pada 1399 dan 1402 M. Keberhasilan Mehmed II menaklukkan Bizantium pun didukung keandalan senjata api dan meriam.



