CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Kondisi ekonomi petani di Provinsi Sulawesi Selatan pada Maret 2026 menunjukkan tekanan yang semakin nyata. Penurunan harga hasil pertanian yang diterima petani tidak diikuti dengan penurunan biaya, bahkan justru sebaliknya biaya terus meningkat.
Situasi ini mencerminkan realita yang dihadapi petani pendapatan menurun, sementara pengeluaran semakin besar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Rabu (1/4), indeks harga yang diterima petani (It) pada Maret 2026 tercatat sebesar 143,54, turun 0,78 persen dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 144,67.
Artinya pemasukan petani pada Maret 2026 karena harga jual hasil panen menurun dibandingkan bulan lalu.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun tajam hingga 7,91 persen. Sektor ini menjadi penekan utama karena memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan petani.
Beberapa subsektor memang menunjukkan kinerja positif yakni tanaman pangan naik 0,22 persen, hortikultura melonjak 11,71 persen, peternakan naik 2,72 persen dan perikanan meningkat 1,28 persen.
Meski ada kenaikan, dampaknya belum cukup kuat untuk mengimbangi penurunan tajam di sektor perkebunan.
Berbanding terbalik dengan indeks harga yang diterima petani, indeks harga yang dibayarkan petani (Ib) justru naik. Pada Maret 2026, Ib mencapai 124,28, meningkat 0,39 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar 123,80.
Kenaikan ini terjadi di seluruh subsektor. Tanaman pangan naik 0,39 persen. Hortikultura naik 0,50 persen. Perkebunan rakyat naik 0,42 persen. Peternakan naik 0,28 persen dan perikanan naik 0,41 persen
Kondisi ini menandakan bahwa biaya produksi, termasuk kebutuhan rumah tangga petani meningkat.
Ketimpangan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan petani berdampak langsung pada Nilai Tukar Petani (NTP). Pada Maret 2026, NTP gabungan tercatat sebesar 115,49, turun 1,17 persen dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 116,86.
Jika lebih diperinci tanaman pangan 111,69 atau turun 0,17 persen. Perkebunan rakyat: sebesar 123,38 (turun 8,30 persen). Hortikultura sebesar 128,55 (naik 11,15 persen). Peternakan 113,04 (naik 2,43 persen). Sementara perikanan 120,62 (naik 0,86 persen)
Dengan kondisi ini, petani menghadapi dua tekanan sekaligus yaknk pendapatan dari hasil panen berkurang dan juga pengeluaran justru semakin besar
Kondisi ini menyebabkan keuntungan sebagian para petani menyempit, bahkan berpotensi merugi, terutama yang bergantung pada komoditas perkebunan.




