Ahli Ungkap Manfaat Makanan Fermentasi untuk Kesehatan

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Hampir setiap negara punya makanan fermentasi andalannya. Di Korea Selatan ada kimchi yang segar dan pedas, di Jepang ada natto dengan aroma khasnya, sementara di Indonesia juga punya banyak, salah satunya yang paling populer tentu saja tempe.

Selama ini, kita sering dengar kalau makanan fermentasi itu baik untuk kesehatan. Tapi ternyata, manfaatnya nggak cuma itu. Proses fermentasi sendiri punya peran penting dalam meningkatkan kualitas makanan.

Menurut Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Antonius Suwanto, fermentasi adalah proses alami di mana mikroorganisme mengubah karbohidrat menjadi alkohol, asam organik, dan gas.

Dalam dunia makanan, proses ini bukan cuma bikin makanan jadi lebih awet, tapi juga mengubah rasa, aroma, dan teksturnya. Makanya, makanan fermentasi punya cita rasa khas.

Menurut Antonius, makanan fermentasi seperti tempe merupakan contoh nyata kekayaan hayati dan budaya Indonesia yang sarat manfaat.

“Tempe itu malah lebih ramai, bukan cuma bakteri. Di situ ada kapang dari Rhizopus yang membuat butiran kedelai bisa menyatu. Ada pula banyak ragam bakteri yang berperan sehingga tempe punya aroma, rasa, dan komposisi kimia yang berbeda dari kedelainya,” katanya seperti dikutip dari laman IPB University, Kamis (2/4).

Nah, mikroorganisme inilah yang jadi kunci utama manfaat makanan fermentasi. Saat kita makan, mikroorganisme tersebut membantu melatih sistem imun tubuh.

“Dengan mengonsumsi makanan fermentasi, kita memberi paparan antigen ke tubuh. Dari situ, sistem imun belajar mengenali ancaman dan membentuk antibodi,” tambahnya.

Ia menambahkan, sel darah putih sebagai garda terdepan pertahanan tubuh perlu “dirangsang” agar tetap aktif. Salah satu cara alaminya adalah dengan mengonsumsi bakteri baik dari makanan fermentasi.

Lalu, bagaimana cara terbaik mengonsumsi makanan fermentasi? Menurutnya, baik dimakan mentah maupun dimasak, keduanya tetap memberikan manfaat.

Dalam penelitiannya, Antonius dan tim pernah membandingkan tempe mentah dan tempe kukus terhadap pembentukan antibodi. Hasilnya, tempe yang dikukus memang sedikit lebih rendah dalam pembentukan antibodi dibanding tempe mentah, tapi perbedaannya tidak terlalu signifikan.

“Keduanya masih jauh lebih baik dibanding kedelai yang belum difermentasi,” paparnya.

Meski begitu, metode pengolahan tetap perlu diperhatikan. “Kalau dibuat keripik, mungkin bakterinya sudah berantakan, jadi kualitasnya lebih rendah dibanding tempe goreng atau tempe bacem,” tambahnya.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, makanan fermentasi layak menjadi bagian dari pola makan modern yang sehat. Selain menjaga kesehatan tubuh, konsumsi makanan fermentasi juga menjadi cara sederhana untuk melestarikan kearifan lokal.

“Yuk, jadikan makanan fermentasi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup sehat kita,” ajak Antonius.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ungkap Penyebab Turunnya PMI Manufaktur, Kadin Wanti-wanti Risiko Serius di Sektor Padat Karya
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Dibuka Turun ke Level 7.153 Pagi Ini, Kapitalisasi Pasar BEI Rp12.610 Triliun
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
OJK dan SRO tuntaskan 4 proposal reformasi transparansi pasar modal RI
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Riset: Warga Indonesia Mulai Rutin Pakai AI untuk Belanja Online
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
Serangan Drone Guncang Erbil Irak, Fasilitas Minyak Milik Inggris Terbakar | KOMPAS PETANG
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.