Terakhir kali manusia melakukan perjalanan ke Bulan terjadi pada lebih dari 50 tahun yang lalu, yakni misi Apollo 17 pada tahun 1972. Setelahnya, misi semacam itu tidak dilakukan lagi, meski sejumlah misi tanpa awak giat dilakukan beberapa negara dengan tujuan Bulan. Bahkan, China mendaratkan wahana robot ke Bulan untuk mengambil sampel.
Barulah pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat atau Kamis (2/4/2026) siang WIB, di Pusat Antariksa Kennedy, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, misi membawa manusia menuju Bulan kembali dilakukan. Ada empat astronot yang berangkat. Tujuan misi yang dipimpin Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) ini adalah mengantar keempat astronot untuk melintasi orbit Bulan, atau tidak sampai mendaratkan mereka di Bulan.
Artemis II, demikian nama misi tersebut, meninggalkan Pusat Antariksa Kennedey dengan api yang menyala pada bagian roketnya. Gaya dorong roket Artemis II mengantarkan wahana meluncur dengan disaksikan puluhan ribu orang di lokasi. Keempat astronot, yaitu Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, dijadwalkan menjalani misi selama hampir 10 hari untuk mengelilingi bulan, lalu kembali ke Bumi. Mereka akan menjadi Homo sapiens yang berada paling jauh dari Bumi selama setidaknya setengah abad terakhir.
Lima menit setelah peluncuran, Reid Wiseman, komandan misi, melaporkan melalui radio apa yang dilhat timnya. “Kami menyaksikan bulan yang indah, kami sedang menuju langsung ke sana,” ujarnya seperti dikutip aljazeera.com.
Para astronot akan mengawali misi dengan menghabiskan satu hingga dua hari pertama di orbit tinggi Bumi. Di lokasi ini, mereka akan menjalankan pemeriksaan sistem secara ekstensif, seperti menguji sistem pendukung kehidupan, propulsi, navigasi, serta sistem komunikasi Orion, nama kapsul tempat para astronot berada.
Dengan pengujian ini, wahana dapat benar-benar dipastikan siap lebih jauh memasuki antariksa. Setelahnya, Orion akan melakukan penyalaan mesin lanjutan atau translunar injection, yang akan mendorong wahana keluar dari orbit Bumi untuk menuju lintasan ke arah Bulan.
Para astronot akan menghabiskan waktu beberapa hari setelah meninggalkan orbit Bumi untuk sampai ke orbit sisi jauh Bulan. Apabila sudah mencapai orbit sisi jauh Bulan, Orion akan terbang melalui lintasan tertentu, sehingga secara alami memanfaatkan gravitasi bulan untuk mengayunkan wahana kembali ke arah Bumi. Pemanfaatan gravitasi Bulan dilakukan agar wahana bisa menggunakan bahan bakar seminimal mungkin.
Setelah terbang melewati bulan, kru akan menghabiskan beberapa hari lagi untuk menuju Bumi. Para astronot akan melaksanakan tes tambahan terkait sistem daya, kontrol panas, dan operasi awak. Kapsul Orion lalu akan masuk ke atmosfer dengan kecepatan sekitar 40.233 km per jam, dan direncanakan mendarat di Samudra Pasifik (Reuters).





