Bisnis.com, JAKARTA — Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memberi tekanan terhadap industri semen nasional, terutama melalui kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok yang berdampak langsung pada operasional perusahaan.
Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMG), Indriefouny Indra, mengatakan gejolak geopolitik global berpengaruh signifikan terhadap biaya produksi semen yang sebagian besar berasal dari komponen energi.
Menurutnya, dalam struktur biaya produksi semen, porsi energi—baik bahan bakar maupun batu bara—mencapai lebih dari separuh total biaya.
“Dalam mahal produksi semen, biaya energi itu lebih dari 50%. Dampak dari geopolitik saat ini sangat besar kepada energi, baik energi bahan bakar maupun batu bara,” ujarnya dalam Rapat Bersama Komisi VI DPR, dikutip Kamis (2/4/2026).
Dia menjelaskan kenaikan harga energi turut mendorong peningkatan biaya logistik, baik untuk pengangkutan bahan baku maupun distribusi semen ke pasar. Lonjakan harga minyak juga menambah tekanan terhadap biaya operasional perusahaan.
Selain itu, gangguan rantai pasok juga mulai dirasakan pada sektor pendukung produksi, khususnya pada pasokan kemasan semen berbahan woven. Pasokan tersebut sempat terganggu setelah produsen petrokimia dalam negeri yang menjadi pemasok utama menyatakan kondisi force majeure.
Baca Juga
- Pasar Oversupply, Penjualan Semen SMGR Turun jadi 37,8 Juta Ton pada 2025
- Penjualan Semen Domestik 2025 Terkoreksi 2%, Segmen Curah Tertekan
- Aluminium-Semen Kena Pajak Karbon CBAM Eropa 2026, Ini Bocorannya
Kondisi tersebut menyebabkan pasokan bahan baku kemasan terbatas sehingga berpotensi mengganggu proses produksi.
“Pasokan kemasan untuk produksi woven saat ini terhenti karena Indonesia Chandra Asri menyatakan force majeure, sehingga sumber pasokan menjadi sangat terbatas,” katanya.
Lebih lanjut, Indriefouny menyebut situasi geopolitik juga berpotensi memengaruhi iklim investasi dan pelaksanaan proyek infrastruktur, termasuk sejumlah proyek strategis nasional. Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut menambah risiko bagi sektor industri.
Dari sisi keuangan, perusahaan menghadapi sejumlah konsekuensi, mulai dari potensi penyesuaian harga jual semen hingga risiko penurunan volume penjualan. Kenaikan harga batu bara dan biaya pengangkutan (freight) juga turut mendorong peningkatan harga pokok produksi.
Di luar faktor geopolitik, dia menambahkan operasional industri semen juga dipengaruhi oleh proses persetujuan dokumen rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pada sejumlah tambang batu bara yang masih tertunda. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan pasokan energi bagi industri.
Meski demikian, perusahaan berupaya meminimalkan dampak terhadap kinerja keuangan melalui langkah efisiensi internal.
“Tentu ada potensi tergerusnya margin laba, tetapi untuk meminimalkan itu kami akan terus melakukan penghematan di internal,” ujarnya.





