Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanis Komaling mengungkapkan dampak kerusakan akibat gempa bumi magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara pada Kamis, 2 April 2026.
Ia menyebut kerusakan paling parah terjadi di Kota Manado, terutama pada bangunan gedung olahraga milik KONI yang digunakan untuk cabang tinju dan basket.
“Yang paling fatal adalah gedung olahraga KONI. Itu rusak berat. Bangunan ini bahkan sudah dua kali roboh akibat gempa, termasuk kejadian sebelumnya,” ujar Yulius dalam Rapat Koordinasi Penanganan Gempa Bumi M7,6 Sulawesi Utara dan Maluku Utara, Kamis, 2 April 2026.
Selain itu, tercatat sebanyak 25 rumah mengalami kerusakan ringan dengan estimasi kerugian mencapai sekitar Rp500 juta.
Dari sisi korban, satu orang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa bangunan, sementara satu korban lainnya mengalami luka setelah melompat dari lantai dua saat gempa terjadi. Pemerintah daerah masih terus melakukan pendataan lanjutan.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengakhiri peringatan dini tsunami yang sebelumnya dikeluarkan usai gempa tersebut.
Gempa bermagnitudo 7,6 itu terjadi pada pukul 5.48 WIB dengan pusat di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 33 kilometer.
BMKG menjelaskan gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi di zona subduksi Laut Maluku dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Sebelumnya, gempa ini sempat berpotensi tsunami dengan status siaga di sejumlah wilayah, termasuk Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, serta sebagian wilayah Minahasa.
Adapun status waspada diberlakukan di wilayah Kepulauan Sangihe, Minahasa Utara bagian utara, dan Bolaang Mongondow bagian selatan.
Hasil pemantauan menunjukkan tsunami kecil sempat terjadi di beberapa wilayah, antara lain di Halmahera Barat setinggi 0,30 meter, Bitung 0,20 meter, Sidangoli 0,35 meter, Minahasa Utara 0,75 meter, serta Belang 0,68 meter.
Meski peringatan tsunami telah dicabut, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. Warga juga diminta memastikan kondisi bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.
BMKG bersama BNPB, Basarnas, dan pemerintah daerah terus berkoordinasi untuk melakukan pemantauan, pemetaan kerusakan, serta memperkuat sistem pemantauan gempa di wilayah terdampak.
Editor: Redaksi TVRINews





