Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan kritik keras terhadap kebijakan nuklir era Presiden AS 2009-2017 Barack Obama yang disebut sebagai salah satu akar persoalan meningkatnya ancaman Iran saat ini.
Trump menilai kesepakatan nuklir yang dibuat oleh Pemerintahan Obama justru memberi ruang bagi Teheran untuk melanjutkan langkah pengembangan senjata nuklir.
Ia menyinggung besaran dana yang diberikan dalam kesepakatan nuklir era Obama senilai US$ 1,7 miliar kepada Iran dalam bentuk tunai sebagai salah satu faktor yang memberi Iran ruang dan sumber daya untuk melanjutkan program nuklirnya. Trump menyebut dana yang diberikan kepada Iran berasal dari sejumlah bank di wilayah Virginia, Washington D.C., dan Maryland.
“Yang sangat penting, saya mengakhiri kesepakatan nuklir Iran. Sebuah bencana Obama memberi mereka (Iran) US $1,7 miliar tunai, green cash,” kata kata Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, pada Rabu (1/4), sebagaimana dikutip dari kanal Youtube The White House.
Menurut Trump, dana tersebut seluruhnya berbentuk uang tunai yang kemudian dikirim menggunakan pesawat sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk memperoleh kepercayaan dan kerja sama dari Teheran. Namun, ia menilai langkah tersebut tidak efektif karena Iran tetap melanjutkan ambisinya dalam pengembangan senjata nuklir.
“Mereka (Iran) menertawakan presiden kita (Obama) dan melanjutkan misi mereka untuk memiliki bom nuklir. Kesepakatan Iran yang dia (Obama) buat akan menghasilkan persenjataan nuklir besar-besaran bagi Iran,” ujar Trump.
Politisi Partai Republik itu menyampaikan langkah pembatalan kesepakatan nuklir dengan Iran telah mengubah arah geopolitik Timur Tengah dan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
Trump mengatakan dunia saat ini akan sangat berbeda jika dirinya tidak membatalkan kesepakatan nuklir tersebut. “Saya sangat bangga melakukannya. Keadaannya sangat buruk sejak awal. Pada intinya, saya melakukan apa yang tidak mau dilakukan oleh presiden lain. Mereka melakukan kesalahan, dan saya memperbaikinya,” ujarnya.
Trump mengklaim Iran sudah berada di ambang pengembangan bom nuklir. Ia menilai peringatan tanpa tindakan tidak cukup, sehingga pada 28 Februari lalu pemerintahannya meluncurkan operasi militer yang secara sistematis melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengancam AS.
Dalam pidatonya, ia turut menyampaikan komitmennya untuk menuntaskan konflik dengan Iran dalam waktu dekat. Dorongan itu disebut juga datang dari keluarga para korban yang meminta pemerintah AS menyelesaikan operasi militer secara tuntas. “Orang-orang terkasih mereka berkata, ‘Tolong, Pak, tolong selesaikan pekerjaan ini,’ semuanya. Dan kami akan menyelesaikan pekerjaan dengan sangat cepat,” ujar Trump.
Trump juga menyampaikan apresiasi kepada sekutu-sekutu utama AS di Timur Tengah, termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain. Ia mengatakan Washington tidak akan membiarkan negara-negara tersebut mengalami kerugian akibat konflik bersenjata yang tengah berlangsung saat ini.
IAEA Bantah Klaim AS soal Ancaman Nuklir IranSebelumnya, Direktur Jenderal Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) Rafael Gossi menyebut Iran tidak sedang mempersiapkan senjata nuklir. Pernyataan Grossi ini berlawanan dengan AS yang menggunakan alasan Iran menjadi ancaman karena memiliki senjata nuklir.
Hal ini terungkap dalam wawancara jurnalis CNN Becky Anderson dengan Grossi. Ketika ditanya mengenai apakah Iran sedang membangun bom nuklir, Rafael Grossi menjawab, "Tidak."
Grossi mengatakan serangan AS terhadap infrastruktur nuklir Iran pada Juni lalu telah membuat kerusakan besar. Karena itu, program nuklir Teheran bisa dikatakan dibekukan bahkan hampir berhenti sama sekali.
"Ada banyak faktor di Iran yang menimbulkan kekhawatiran serius, termasuk penumpukan yang tidak beralasan atas jumlah besar bahan hampir setara militer dan kurangnya transparansi dalam inspeksi," ujar Grossi.
Namun, IAEA tidak memiliki informasi yang menunjukkan adanya program terstruktur dan sistematis untuk membangun atau mengembangkan senjata nuklir.
“Kita harus menyeimbangkan kedua hal ini. Ya, (ada) banyak alasan untuk khawatir, tetapi tidak akan ada bom (di Iran) besok atau lusa,” kata Grossi.
Menurutnya, AS dan Israel mungkin memiliki kesan semua aktivitas Iran bertujuan langsung dan secara langsung untuk memproduksi senjata nuklir.
“Kami dari IAEA tidak bertugas untuk menilai niat. Ada alasan untuk khawatir, tetapi lini masa ini mungkin sedikit subjektif.”




