PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun sepanjang 2025 di tengah koreksi harga batu bara dunia.
Selain laba bersih, PTBA mencatatkan EBITDA sebesar Rp 6,08 triliun. Perseroan juga membukukan arus kas operasi sebesar Rp 6,26 triliun, naik 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi operasional, PTBA meningkatkan produksi batu bara sebesar 9 persen menjadi 47,2 juta ton pada 2025. Volume penjualan juga naik 6 persen jadi 45,4 juta ton. Sementara itu, volume angkutan batu bara meningkat 6 persen dari sebelumnya 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan, capaian Perseroan menunjukkan ketahanan operasional perseroan di tengah tekanan harga batu bara global.
"Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22 persen, PTBA mampu menjawab tantangan tersebut dengan peningkatan efisiensi operasional dan perluasan pangsa pasar global," jelas Arsal, dalam keterangan resmi, Kamis (2/4).
Lebih lanjut, PTBA mempertahankan pasar domestik sebagai kontributor utama dengan porsi 54 persen dari total penjualan. Sementara itu, porsi ekspor mencapai 46 persen.
Perseroan juga memperluas pasar ekspor ke sejumlah negara baru di Eropa, yakni Spanyol dan Rumania, selain mempertahankan pasar utama di Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
Sepanjang 2025, PTBA mencatatkan total aset sebesar Rp 43,92 triliun. Perseroan juga merealisasikan belanja modal atau capex sebesar Rp 4,55 triliun untuk pengembangan infrastruktur, termasuk proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan.
Memasuki tahun 2026, PTBA merespons positif persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tanpa adanya pemotongan volume produksi. PTBA menargetkan produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton.
"PTBA optimis dapat menjaga kinerja positif yang berkelanjutan untuk berkontribusi pada perekonomian bangsa serta menjaga ketahanan energi nasional," kata Arsal.





