Bisnis.com, JAKARTA — Industri komponen otomotif nasional mulai menyiapkan strategi adaptif untuk meredam tekanan global akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok.
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (Gaikindo), Rachmat Basuki, mengungkap pelaku industri mulai mengandalkan strategi multi-sourcing guna menjaga kesinambungan pasokan bahan baku.
Multi-sourcing adalah strategi pengadaan di mana perusahaan menggunakan lebih dari satu pemasok (supplier) untuk mendapatkan bahan baku, komponen, atau jasa yang sama.
Alih-alih bergantung pada satu pemasok saja, perusahaan membagi pasokan ke beberapa supplier dari negara berbeda, perusahaan berbeda atau wilayah berbeda.
"Berdasarkan informasi dari beberapa rekan industri komponen, sejumlah perusahaan terganggu dengan impor bahan baku aluminium dan plastik, meskipun mereka mencoba manajemen risikonya dengan multi-sourcing dari negara lain," ujar Basuki kepada Bisnis, Kamis (2/4/2026).
Gangguan pasokan terjadi seiring meningkatnya tensi geopolitik yang turut memengaruhi jalur distribusi global. Konflik Iran dengan AS-Israel mendorong harga minyak Brent menembus US$100 per barel, disertai pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.000 per dolar AS.
Baca Juga
- Pasar Otomotif Lesu Tekan Kinerja Emiten Grup Saratoga (MPMX) pada 2025
- Selamat Sempurna Waspadai Dampak Lonjakan Harga Minyak ke Bisnis Komponen Otomotif
- Taktik Toyota-Suzuki Kuasai Pasar Otomotif RI 2026
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya logistik dan harga bahan baku, terutama bagi industri yang bergantung pada impor. Aluminium dan plastik menjadi komoditas yang paling terdampak, mengingat keduanya merupakan bahan utama dalam produksi komponen otomotif.
Basuki menilai strategi diversifikasi pemasok menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas produksi. Dengan menggandeng lebih dari satu negara pemasok, pelaku industri dapat mengurangi ketergantungan terhadap kawasan tertentu yang berisiko tinggi.
Di sisi lain, tekanan eksternal terjadi di tengah kondisi pasar domestik yang belum sepenuhnya pulih. Data Gaikindo mencatat produksi mobil nasional sepanjang 2025 mencapai 1,14 juta unit, turun 4,1% dibandingkan 2024 yang sebesar 1,19 juta unit.
Penurunan juga terjadi pada sisi penjualan. Distribusi mobil secara wholesales tercatat 803.687 unit atau turun 7,2% secara tahunan. Sementara itu, penjualan ritel mencapai 833.692 unit, melemah 6,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri komponen, mengingat pasar domestik selama ini menjadi penopang utama permintaan. Penurunan penjualan kendaraan dalam tiga tahun terakhir turut menekan kinerja industri secara keseluruhan.
Basuki menyebut tekanan berlapis tersebut berdampak pada efisiensi operasional perusahaan. Sejak pertengahan 2025, sejumlah pelaku industri bahkan melakukan penyesuaian tenaga kerja sebagai respons terhadap melemahnya permintaan.
Meski demikian, pelaku industri tetap berupaya menjaga keberlangsungan usaha melalui strategi adaptif. Diversifikasi sumber bahan baku dinilai mampu memberikan fleksibilitas di tengah ketidakpastian global.
Langkah ini juga diharapkan dapat menjaga stabilitas produksi sekaligus menahan lonjakan biaya yang berpotensi menekan margin industri. Dengan pendekatan tersebut, industri komponen otomotif diharapkan mampu bertahan dan tetap kompetitif.
Di tengah dinamika global dan domestik, strategi mitigasi risiko menjadi kunci utama bagi pelaku industri. Upaya ini sekaligus mencerminkan kesiapan sektor manufaktur dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.





