NO KINGS: Protes Jalanan yang Bisa Mengguncang Pemilu Sela Amerika Serikat

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pada 28 Maret 2026, jutaan warga Amerika Serikat turun ke jalan secara serentak di ribuan titik di seluruh negeri. Dari St. Paul hingga Los Angeles, dari New York City hingga Houston, satu pesan menggema di jalanan: No Kings.

Bagi banyak orang, ini bukan sekadar demonstrasi. Ini adalah luapan kemarahan publik terhadap gaya kepemimpinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai cenderung otoriter dan mengancam nilai-nilai demokrasi. Namun gerakan ini tidak lahir dalam semalam, gerakan ini adalah bentuk akumulasi kekecewaan masyarakat Amerika terhadap pemerintahannya saat ini.

Sebelum menjadi besar pada akhir Maret 2026, gerakan No Kings pertama kali berlangsung pada 14 Juni 2025. 14 Juni dipilih karena bertepatan dengan Peringatan 250 tahun angkatan darat Amerika Serikat dan ulang tahun ke 79 Donald Trump. Gelombang kedua gerakan No Kings terjadi pada 18 Oktober 2025. Masih dengan membawa agenda yang sama, gelombang kedua ini mencatat peningkatan jumlah partisipan sebanyak 7000 orang.

Pada bulan Januari 2026, sejumlah lembaga masyarakat telah menjadwalkan Maret 2026 untuk aksi gelombang ketiga, sebagai bentuk respons atas kematian Alex Pretti dan Renée Good akibat tindak kekerasan Immigration and Customs Enforcement (ICE). Pada 28 Maret 2026, gelombang ketiga No Kings menjadi aksi demonstrasi damai terbesar sepanjang sejarah amerika.

Diperkirakan sekitar 8 hingga 9 juta orang turun ke jalan di lebih dari 3.300 lokasi di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat, serta di kota-kota internasional seperti Tokyo, Paris, Berlin, Roma, dan Sydney. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Women's March tahun 2017 di mana terdapat sekitar 3,3–5,2 juta orang yang terlibat dalam aksi tersebut.

Selain masih membawa tuntutan yang sama dari dua gelombang aksi sebelumnya, pada gelombang ketiga ini, tuntutan lainnya adalah protes keras terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan terhadap Iran serta menentang operasi Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang dinilai brutal dan menyebabkan kematian warga seperti Renée Good dan Alex Pretti.

Pada bulan November tahun 2026, akan dilangsungkan pemilu sela di Amerika Serikat, kondisi demonstrasi No Kings yang memuncak pada 28 Maret 2026 tentu akan memberikan pengaruh terhadap pemilu sela mendatang.

Demonstrasi No Kings menunjukkan peningkatan ketidakpuasan publik. Meluasnya aksi hingga melibatkan lebih dari 8 juta orang menunjukkan adanya penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah Amerika Serikat saat ini. Isu kebijakan luar negeri seperti serangan terhadap Iran dan kekerasan agen imigrasi ICE menjadi katalisator utama kemarahan publik.

Pemicu emosional terbesar adalah insiden penembakan fatal terhadap dua warga sipil, Renée Good dan Alex Pretti, oleh agen imigrasi ICE pada Januari 2026. Insiden ini terjadi di St. Paul, Minnesota, yang kemudian menjadi pusat (flagship site) gerakan gelombang ke-3. Kekerasan yang dilakukan oleh ICE menyebabkan fragmentasi dan polarisasi di tengah masyarakat Amerika.

Selain itu, keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik bersenjata dengan Iran, memicu kemarahan publik yang luar biasa, terutama karena banyak warga Amerika yang menentang keterlibatan dalam perang baru di Timur Tengah. Konflik bersenjata dengan Iran, memicu lonjakan harga energi dan bahan bakar secara global, yang tentu saja membebani biaya hidup warga Amerika dan meningkatkan kekhawatiran akan inflasi jangka panjang. Bagi rakyat Amerika, terdapat satu pertanyaan yang sama yakni mengapa Amerika harus terlibat dalam perang baru ketika biaya perang lama saja masih membebani generasi saat ini?

Proyek Costs of War dari Brown University memperkirakan total biaya perang pasca 9/11 mencapai sekitar $8 triliun. Angka ini mencakup pengeluaran langsung Departemen Pertahanan, biaya keamanan dalam negeri (Homeland Security), serta komitmen masa depan. Perang pasca 9/11 hampir seluruhnya didanai melalui utang (deficit spending) daripada kenaikan pajak. Hal ini menyebabkan: Peningkatan rasio utang terhadap PDB Amerika Serikat sebesar 9–10 poin persentase serta Pembayaran bunga utang yang diperkirakan akan terus membengkak hingga triliunan dolar di masa depan.

Salah satu dampak ekonomi jangka panjang terbesar adalah biaya medis dan kompensasi cacat bagi para veteran. Hingga tahun 2050, biaya ini diperkirakan mencapai antara $2,2 triliun hingga $2,5 triliun. Para ekonom mencatat bahwa investasi masif pada sektor militer telah mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi di sektor sipil, seperti infrastruktur, pendidikan, dan energi terbarukan, yang dikenal sebagai dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Serangan Amerika Serikat ke Iran, yang diikuti dengan penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, telah menciptakan guncangan ekonomi yang signifikan di dalam negeri AS. Mulai dari peningkatan harga bahan bakar minyak, terhentinya aliran 20 juta barel minyak per hari yang masuk ke Amerika, serta ancaman stagflasi yakni suatu kondisi di mana inflasi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi yang mandek. Selain itu, anggaran pertahanan Amerika Serikat membengkak secara mendadak untuk membiayai operasi militer di Teluk, yang menambah beban defisit fiskal negara.

Di tengah kondisi tersebut, hasil jajak pendapat dari Pew Research Center dan Marist Poll menunjukkan mayoritas warga yakni sekitar 56%, tidak percaya bahwa tindakan militer ini akan membuat Amerika atau dunia menjadi lebih aman. Masyarakat Amerika juga menuntut agar pemerintah berfokus pada masalah-masalah domestik alih alih membuat masalah baru di luar negeri. Di sinilah No Kings menemukan momentumnya. Gerakan ini bukan hanya kritik terhadap satu kebijakan, melainkan ekspresi dari krisis kepercayaan publik terhadap arah pemerintahan saat ini.

Gerakan No Kings juga berhasil menyatukan kelompok hak asasi manusia, serikat pekerja, hingga figur publik, yang diprediksi akan bertransformasi menjadi kekuatan mobilisasi pemilih (voter turnout) untuk menentang kandidat pro-pemerintah pada November mendatang.

Nama "No Kings" sendiri merupakan pesan politik kuat yang menekankan Amerika sebagai republik, bukan monarki. Sentimen ini diperkirakan akan digunakan oleh lawan politik sebagai narasi kampanye utama dalam Pemilu Sela untuk merebut kursi di Kongres.

Kemudian yang perlu diperhatikan pula adalah dinamika politik di negara bagian kunci. Fokus aksi di wilayah seperti St. Paul, Minnesota, menunjukkan bahwa negara-negara bagian yang krusial (swing states) sedang mengalami pergolakan politik yang dapat mengubah peta perolehan suara secara drastis.

Apa yang terjadi di Amerika saat ini, menegaskan satu hal: Foreign Policy Begins at Home. Prinsip ini dipopulerkan oleh Richard Haass. Prinsip yang menekankan bahwa kekuatan, kredibilitas, dan pengaruh internasional suatu negara bergantung langsung pada kesehatan dalam negerinya, termasuk stabilitas ekonomi, infrastruktur, dan kohesi politik.

Ketika kebijakan luar negeri seperti agresi militer yang dilakukan Amerika dirasakan langsung dampak ekonominya oleh masyarakat maka ia dapat berubah menjadi isu domestik yang eksplosif. No Kings mungkin akan tercatat bukan hanya sebagai demonstrasi besar, tetapi sebagai penanda bahwa legitimasi politik sebuah pemerintahan bisa terkikis bukan oleh oposisi di parlemen, melainkan oleh warga di jalanan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Pastikan Potensi Tsunami Pascagempa Malut–Sulut Sudah Berakhir
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Tepergok Warga, Maling Motor di Cirebon Babak Belur Dihajar Massa
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Wanita di Manado Nekat Lompat dari Bangunan 2 Lantai saat Gempa Besar M,76
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Menteri PU Dorong Percepatan Pemanfaatan Asbuton demi Kurangi Ketergantungan Impor Aspal
• 1 menit lalupantau.com
thumb
Negara yang Warganya Mulai Meninggalkan Penggunaan Uang Tunai
• 19 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.