Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa masa depan Selat Hormuz harus diputuskan oleh Iran dan Oman. Araghchi menegaskan bahwa jalur perairan strategis itu berada di dalam wilayah perairan kedua negara.
"Pengaturan apa pun yang dibuat (terkait Selat Hormuz) setelah perang adalah urusan Iran dan Oman," tegas Araghchi dalam wawancara dengan televisi lokal Qatar, seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (2/4/2026).
Araghchi menambahkan bahwa Selat Hormuz "dapat menjadi jalur air perdamaian" untuk jalur aman. Tetapi dia juga mengatakan bahwa memastikan keamanan maritim dan perlindungan lingkungan akan membutuhkan mekanisme bersama di antara negara-negara pesisir.
Meskipun sebagian Selat Hormuz berada di dalam perairan teritorial Iran dan Oman, selat tersebut diklasifikasikan sebagai selat internasional, yang memberikan hak transit kepada kapal dan pesawat terbang berdasarkan hukum internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran global penting yang terdampak parah oleh perang yang berkecamuk antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari lalu. Sebelum perang terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global berlayar melalui jalur perairan tersebut.
Perang yang meletus sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran, telah mendorong Teheran untuk melancarkan serangan balasan di seluruh kawasan dan membatasi akses ke Selat Hormuz.
(nvc/idh)





