Penulis: Fityan
TVRINews – Budapest
Kemenangan Peter Magyar diprediksi akan mengubah peta kebijakan pertahanan dan energi Uni Eropa di tengah bayang-bayang pengaruh Rusia.
Uni Eropa kini tengah bersiap menghadapi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah politik modernnya.
Pemilihan umum parlemen Hungaria yang dijadwalkan pada 12 April mendatang, dinilai bukan sekadar pergantian kepemimpinan domestik, melainkan titik balik bagi stabilitas kebijakan luar negeri dan pertahanan blok Benua Biru tersebut.
Selama 16 tahun di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Viktor Orban, Hungaria kerap dianggap sebagai hambatan utama dalam proses pengambilan keputusan kolektif Uni Eropa.
Mulai dari kebijakan suaka, mekanisme pertahanan bersama, hingga transisi energi hijau, Orban secara konsisten menggunakan hak vetonya untuk menentang arus utama kebijakan Brussel.
Ketergantungan Hungaria pada minyak dan gas Rusia, serta penolakan Orban untuk membuka pembicaraan keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, telah menciptakan ketegangan geopolitik yang mendalam.
"Kita memiliki dua pemerintahan di dalam Uni Eropa (Hungaria dan Slovakia) yang secara fanatik mendukung Trump dan secara bersamaan pro-Rusia," ujar Angelos Syrigos, anggota parlemen New Democracy dari Athena, sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera kamis 2 April 2026.
Menurut Syrigos, ancaman veto yang kerap dilontarkan Orban memaksa negara-negara anggota lainnya untuk mencari solusi kompromi yang melelahkan. "Kami tidak menginginkan veto. Orban terus-menerus memveto banyak hal," tegasnya.
Munculnya Kekuatan Baru: Peter Magyar
Lanskap politik Hungaria kini mengalami pergeseran dengan munculnya Peter Magyar, pemimpin partai oposisi Tisza. Magyar menawarkan visi yang kontras dengan Orban, yakni orientasi Eropa yang lebih kuat, penegakan hukum untuk memberantas korupsi, dan rencana membawa keanggotaan Ukraina ke dalam referendum yang mengikat.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan partai Tisza unggul dengan raihan sekitar 50 persen suara, memimpin 10 poin di atas partai Fidesz milik Orban.
(Peter Magyar, pemimpin partai oposisi Tisza di Hungaria, di Budapest, Hungaria (Foto: Al Jazeera))
Jika Magyar berhasil memenangkan pemilu, para pengamat menilai hal ini akan memberikan dampak psikologis yang luar biasa besar bagi Uni Eropa.
"Ini akan menjadi suntikan kepercayaan diri yang besar bagi Uni Eropa," kata S.M. Amadae, profesor di Centre for the Study of Existential Risk, Universitas Cambridge.
Menurutnya, kemenangan oposisi akan memberikan rasa kepemilikan kembali bagi rakyat Hungaria atas masa depan mereka.
Evolusi Pragmatis Uni Eropa
Di sisi lain, perilaku obstruksionis Orban secara tidak langsung telah memaksa Uni Eropa untuk berevolusi secara pragmatis.
Salah satu contoh nyata terjadi pada KTT Desember 2023, di mana para pemimpin Uni Eropa meminta Orban meninggalkan ruangan sejenak agar mereka dapat secara bulat menyatakan Ukraina sebagai negara kandidat.
Katalin Miklossy, Profesor Studi Eropa Timur di Universitas Helsinki, mengamati bahwa Uni Eropa mulai meninggalkan pola kaku dalam aturan demi efektivitas.
"Masalah Uni Eropa sebelumnya adalah kita terlalu lemah karena terpaku pada aturan. Sekarang, hal itu sudah mulai ditinggalkan," ungkapnya kepada Al Jazeera.
Meski demikian, jalan menuju perubahan tidaklah mudah. Sistem pemilu yang telah diubah (gerrymandering) serta cengkeraman "negara dalam negara" melalui jaringan oligarki yang dekat dengan Orban menjadi tantangan berat bagi oposisi.
Dunia kini menanti apakah April mendatang akan membawa angin perubahan dari Budapest, atau justru memperkokoh posisi Hungaria sebagai duri dalam daging bagi integrasi Eropa.
Editor: Redaksi TVRINews





