Serba Pertama di Misi Artemis II ke Bulan

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Manusia akhirnya kembali ke Bulan. Setelah tertunda dua bulan akibat sejumlah kendala teknis, misi Artemis II yang membawa empat antariksawan akhirnya meluncur ke Bulan pada Rabu (1/4/2026) petang waktu Amerika Serikat atau Kamis (2/4) subuh WIB.

Perjalanan ini pun menjadi yang serba pertama. Bukan hanya misi manusia pertama ke Bulan di abad ke-21 ini, tetapi juga pertama kalinya roket SLS dan kapsul Orion membawa antariksawan. Pasalnya, dalam misi Artemis I pada 2022, SLS dan Orion hanya melakukan uji terbang ke orbit Bulan tanpa awak.

Jika semua berjalan lancar, dalam 24 jam, wahana kapsul Orion akan tiba di Bulan.

“Dan…meluncur! Awak Artemis II kini menuju Bulan. Perjalanan besar umat manusia berikutnya dimulai,” kata juru bicara Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), Derrol Nail, dalam siarang langsung peluncuran misi tersebut sesaat setelah roket meluncur meninggalkan landasan.

Roket Space Launch System (SLS) terus membumbung ke angkasa di tengah cahaya keemasan Matahari senja dan tatapan takjub lebih dari 400.000 orang yang menyaksikan langsung peristiwa bersejarah itu.

Di ujung atas SLS terdapat kapsul Orion yang membawa empat antariksawan yang akan menjalankan misi Artemis II selama 10 hari untuk terbang melintas di dekat Bulan, tidak mengorbit dan juga tidak mendarat di Bulan.

Baca JugaManusia Kembali Pergi ke Bulan
Orang Kanada pertama ke Bulan

Ini adalah perjalanan manusia ke Bulan yang pertama pada abad ke-21. Terakhir kali manusia menuju Bulan pada 1972 atau 54 tahun lalu dalam misi Apollo 17. Bagi NASA, momen ini penting sebagai bagian dari upaya baru AS untuk memperluas jangkauan umat manusia menjelajahi Tata Surya secara berkelanjutan, tidak hanya terus menerus berkutat di orbit rendah Bumi seperti yang dilakukan selama ini.

SLS yang merupakan roket terkuat milik NASA meluncur dari landas luncur 39B di Bandar Antariksa Kennedy, Florida, AS pada Rabu (1/4) pukul 18.35 waktu setempat atau Kamis (2/4) pukul 05.35 WIB. Di ujung atas SLS terdapat kapsul Orion yang membawa empat antariksawan yang akan menjalankan misi Artemis II selama 10 hari untuk terbang melintas di dekat Bulan, tidak mengorbit dan juga tidak mendarat di Bulan.

Keempat antariksawan tersebut, seperi dikutip dari Space, adalah komandan penerbangan Reid Weisman (50), pilot Victor Glover (49), dan spesialis misi Christina Koch (47). Ketiganya adalah penerbang luar angkasa veteran atau astronot NASA yang memiliki pengalaman panjang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Satu antariksawan lagi adalah Jeremy Hansen (50) dari Kanada yang juga bertindak sebagai spesialis misi. Dia merupakan penerbang pemula dan akan menjadi orang Kanada pertama yang terbang ke Bulan.

“Kami memiliki awak terbaik dari NASA dan Badan Antariksa Kanada (CSA). Kami memiliki kepercayaan penuh terhadap yang lain dan itulah cara kami untuk melewati misi ini,” kata Wiseman dalam taklimat media beberapa hari sebelum peluncuran.

Perjalanan keempat antariksawan dalam wahana Orion itu tidak mudah. Banyak tahap perjalanan harus dilalui dan menentukan keberlanjutan misi serta keberhasilan perjalanan ke Bulan di tahap berikutnya.

Baca JugaMisi Manusia Ke Bulan

Sebelum roket SLS meluncur, dua roket pendorong tambahan di samping kiri dan kanan roket pendorong utama menyala terlebih dahulu. Dorongan kedua roket tambahan itu mampu menghasilkan 75 persen daya dorong SLS. Tambahan daya dari empat mesin RS-25 yang ada di roket pendorong utama akan menghasilkan gaya luar biasa, sebesar 39,1 meganewton saat roket lepas landas.

Baca JugaMisi Artemis II Dimulai, Manusia Siap Kembali ke Bulan

Sesaat setelah roket SLS meluncur, asap putih tebal membumbung dari mesin pendorong roket dan membawa roket makin tinggi. Dua menit setelah roket meninggalkan landasan, seperti dikutip dari situs NASA, dua roket pendorong tambahan yang berbahan bakar padat lepas dari roket pendorong utama. Setelah itu, gerak SLS bergantung pada empat mesin RS-25 yang mendorong Orion dan awaknya menuju luar angkasa.

Mesin RS-25 yang mendorong roket SLS adalah mesin roket yang sama yang digunakan oleh pesawat ulang-alik NASA. Demikian juga dua roket pendorong tambahan. Meski demikian, berbeda dengan misi-misi sebelumnya, semua bagian dari roket utama maupun roket tambahan yang digunakan dalam misi Artemis II ini tidak akan digunakan lagi alias sekali pakai.

Selanjutnya, pada menit kedelapan setelah lapas landas, roket SLS mencapai orbit dan mesin di roket pendorong utama mati. Sesudah itu, roket bagian atas akan melakukan pembakaran mesin sebanyak dua kali guna menaikkan posisi apogee atau jarak terjauh roket dalam lintasan elips mengelilingi Bumi. Setelah menaikkan wahana ke apogee, Orion akan menjalani penyempurnaan orbit di sekitar Bumi sebelum akhirnya benar-benar di arahkan pada jalur yang benar menuju Bulan.

Misi kali ini juga membawa perempuan pertama Christina Koch, antariksawan kulit hitam pertama Victor Glover, dan antariksawan non-AS pertama Jeremy Hansen ke Bulan.

Serba pertama

Selain menjadi misi manusia pertama ke Bulan dalam abad ke-21, misi Artemis II ini juga penuh dengan hal-hal yang serba pertama. Ini adalah untuk pertama kalinya roket SLS dan kapsul Orion membawa antariksawan. Dalam misi Artemis I pada 2022, SLS dan Orion hanya melakukan uji terbang ke orbit Bulan tanpa awak.

Misi kali ini juga membawa perempuan pertama Koch, antariksawan kulit hitam pertama Glover, dan antariksawan non-AS pertama Hansen ke Bulan. Sebanyak 12 antariksawan yang pernah mendarat sebelumnya dalam misi Apollo, semuanya adalah laki-laki, berkulit putih, dan berkewarganegaraan AS. Misi ini juga menjadi yang pertama bagi Orion untuk terbang membawa toilet saat mengelilingi Bulan.

“Meski momen ini merupakan sesuatu yang patut di rayakan, berbagai pencapaian yang serba pertama itu belum menceritakan keseluruhan cerita. Ini juga bukan tentang merayakan satu individu tertentu karena jika memang ada yang patut dirayakan, maka itu adalah masa di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpinya dengan bekerja keras,” kata Koch pada Minggu (29/3).

Baca JugaMengapa Manusia Kembali ke Bulan?

Jarak penerbangan yang akan ditempuh dalam misi Artemis II ini juga akan menjadi penerbangan luar angkasa terjauh yang dicapai manusia. Kapsul Orion akan terbang di sisi jauh atau bagian belakang Bulan yang tidak terlihat dari Bumi dan keempat antariksawan itu akan berada pada jarak 406.841 kilometer (km) dari Bumi. Jarak itu sekitar 6.400 km lebih jauh dari rekor penerbangan sebelumnya yang dicapai antariksawan dalam misi Apollo 13 tahun 1970.

Walau capaian ini luar biasa, namun NASA memilih untuk fokus pada pengaturan jadwal antariksawan selama perjalanan mengelilingi Bulan hingga waktu misi yang ditentukan tercapai.

“Mencapai jarak yang lebih jauh dari Bumi daripada yang pernah dicapai sebelumnya adalah angka statistik yang menyenangkan. Namun, ada banyak hal lain yang bisa kita pelajari dalam misi ini dan itu jauh lebih menarik,” kata direktur penerbangan Artemis II Emily Nelson.

Misi Artemis ini untuk mendahului upaya serupa yang bakal dilakukan China yang juga ingin mendaratkan antariksawannya di Bulan sebelum tahun 2030.

Keinginan untuk berkelanjutan

Berbeda dengan misi Apollo NASA ke Bulan tahun 1969-1972, NASA ingin perjalanan manusia ke Bulan kali ini berkelanjutan. Karena itu, NASA tidak ingin apa yang dilakukan Wiseman dan antariksawan lainnya akan menjadi yang terakhir kembali seperti misi sebelumnya.

Administrator NASA Jared Isaacman sebelum peluncuran mengungkapkan perubahan rencana ambisius NASA untuk mengeksplorasi Bulan. Rencana baru ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan misi Artemis sehingga pendaratan manusia di Bulan dapat dilakukan pada 2028 dan pembangunan pangkalan manusia di Bulan sudah bisa dilakukan pada 2032.

Baca JugaBulan Seharusnya Memiliki Cincin seperti Saturnus

Perubahan rencana itu bukan hanya untuk mempercepat program Artemis yang telah lama terhambat oleh berbagai penundaan, tetapi juga menunjukkan keunggulan AS di luar angkasa seperti yang diharapkan Presiden Donald Trump pada Desember 2025. Misi Artemis ini untuk mendahului upaya serupa yang bakal dilakukan China yang juga ingin mendaratkan antariksawannya di Bulan sebelum tahun 2030.

Baca JugaPersaingan Menuju Bulan

Isaacman memang tidak menyebut nama China dalam konteks tersebut, namun memang hanya China yang saat ini memiliki program ambisius tersebut. “Kami akan mengembalikan AS ke Bulan sebelum masa jabatan Presiden Trump berakhir,” katanya.

NASA berencana melanjutkan misi Artemis II dengan Artemis III pada 2027 yang bertujuan untuk menguji coba metode penyambungan kembali dan proses sandar wahana pendarat di Bulan dengan Orion. Uji coba ini akan dilakukan dengan salah satu atau dua wahana pendarat Bulan komersial yang kini sedang dibangun.

Saat ini, SpaceX sedang membangun wahana pendarat di Bulan untuk NASA yang dinamai Starship. Perusahaan lainnya, Blue Origin, juga tengah menyiapkan wahana pendaratnya sendiri yang dinamai Blue Moon. Pendaratan di Bulan untuk pertama kalinya akan dilakukan pada misi Artemis IV dan Artemis V mulai tahun 2028. Setelah itu, pendaratan di Bulan akan dilakukan secara reguler mulai misi Artemis VI dan seterusnya.

Namun sebelum semua rencana itu terlaksana, misi Artemis II yang sedang berlangsung sekarang adalah pondasi penting bagi misi-misi berikutnya. Dalam misi kali ini, keempat antariksawan yang bertugas memiliki tanggung jawab penting untuk menguji berbagai fungsi dasar wahana yang tumpangi.

Sistem pendukung kehidupan wahana kecil itu harus dipastikan bekerja sesuai rencana. Sistem toilet Orion, sistem pengolah limbah universal, hingga kinerja kapsul saat terbang dan uji coba penerbangan manual wahana untuk penggabungan kembali dengan bagian atas roket SLS harus dipastikan bekerja sesuai rencana. Keberhasilan ini akan menjadi dasar bagi pengiriman misi berawak berikutnya ke Bulan.

“Kami ingin memastikan bahwa berbagai sistem dalam wahana siap dan dapat mengendalikan wahana sesuai harapan sehingga bisa memberi rasa nyaman serta memungkinkan proses penyambungan otomatis wahana dalam misi yang lebih kompleks di masa mendatang,” tambah Glover.

Kesuksesan misi Artemis II ini bukan hanya menentukan keberlanjutan misi Artemis NASA berikutnya, tetapi juga mendorong perlombaan negara-negara lain untuk mengeksplorasi Bulan.

Baca JugaDari Ekonomi Luar Angkasa ke Ekonomi Bulan

Misi Artemis II ini  bukan hanya penerbangan berawak pertama untuk kapsul Orion, tetapi juga penggunaan Modul Layanan Eropa, bagian silinder dari wahana yang menyediakan daya dan propulsi untuk penerbangan wahana luar angkasa ke Bulan. Modul buatan Badan Antariksa Eropa ini dapat berfungsi sempurna pada misi tanpa awak Artemis I.

Jika uji coba Orion di tahap awal ini berjalan lancar, maka tahapan penting selanjutnya yang harus dijalani adalah manuver Trans-Lunar Injection. Manuver ini akan mengantarkan awak Artemis II pada jalur terakhir mereka untuk mengelilingi Bulan dan diperkirakan akan dilakukan pada Kamis (2/4) petang waktu AS atau Jumat (3/4) pagi waktu Indonesia.

Kesuksesan misi Artemis II ini bukan hanya menentukan keberlanjutan misi Artemis NASA berikutnya, tetapi juga mendorong perlombaan negara-negara lain untuk mengeksplorasi Bulan. Lebih jauh dari itu, keberhasilan dan keberlanjutan manusia mengeksplorasi Bulan juga akan menjadi penentu langkah manusia untuk menundukkan planet Mars pada dekade mendatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Breaking News: Trump Sebut Presiden Iran Minta Gencatan Senjata
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gempa 7,6 M Terasa Kuat di Manado: Banyak Tiang Listrik Gerak, Pemobil Berhenti
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenag Dorong Generasi Muda Jadi Motor Ekoteologi
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Komnas HAM Rilis 8.599 SKKPHAM bagi Korban Pelanggaran HAM Berat
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Cara Sehat Ekspresikan Amarah
• 18 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.