Jakarta, VIVA – Polemik pernyataan mantan pejabat Said Didu soal anggaran Event Organizer (EO) pemerintah berbuntut panjang. Backstagers Indonesia Event Management Association resmi melayangkan keberatan, menyebut tudingan tersebut sebagai disinformasi yang menyudutkan jutaan pekerja industri event.
Organisasi yang menaungi lebih dari 278 ribu pekerja event profesional bersertifikat dan jutaan pekerja informal itu menilai pernyataan yang bersangkutan dalam program salah satu televisi swasta telah melukai pelaku industri, mulai dari kru panggung hingga pelaku UMKM.
Ketua Umum Backstagers Indonesia, Andro Rohmana Putra, menegaskan narasi yang menyebut EO sebagai “tempat korupsi paling aman” tidak berdasar dan tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
"Menyebut EO sebagai tempat korupsi saat industri ini baru saja merangkak naik setelah dua tahun mati suri akibat pandemi adalah narasi yang tidak punya empati. Hari ini, para pelaku EO bertahan di tengah badai pemangkasan dan efisiensi anggaran pemerintah. Kami bertahan saja sudah bagus, apalagi dituduh menelan uang negara puluhan triliun," katanya, Kamis, 2 April 2026.
Menurut Backstagers, industri event justru masih dalam kondisi terpukul. Pandemi COVID-19 membuat sektor ini nyaris lumpuh total selama 2020–2022. Saat mulai bangkit di 2023–2024 lewat berbagai event besar, hantaman baru datang pada 2025 akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang memangkas banyak proyek.
Tak hanya itu, mereka menilai industri event bukan pemborosan, melainkan penggerak ekonomi. Data yang mereka rujuk menunjukkan sektor ini berkontribusi besar terhadap PDB dan memiliki efek berantai bagi pelaku UMKM hingga pekerja harian lepas.
Namun fakta di lapangan justru disebut memprihatinkan. Dalam banyak kegiatan pemerintah daerah, alokasi anggaran untuk tenaga kerja event disebut sangat minim, bahkan nyaris nol.
“Banyak pemerintah daerah menyelenggarakan event, namun dalam anggarannya mereka menolak memasukkan biaya upah untuk tenaga kerja teknis dan kru lokal. Kerja kreatif masih dianggap bisa dibayar dengan 'terima kasih' dan bahkan kami harus mengemis ke vendor agar dapat membayar kru event" katanya.
Backstagers juga menyinggung kasus videografer Amsal Sitepu yang sempat viral sebagai gambaran lemahnya penghargaan terhadap kerja kreatif.





