Analis: Sentimen Bitcoin masih rapuh imbas ketidakpastian geopolitik

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai sentimen pergerakan harga Bitcoin masih menunjukkan tekanan signifikan akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Hal ini menyusul pidato Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran yang tidak memberikan kejelasan arah de-eskalasi.

“Pasar sebelumnya sudah mengantisipasi kemungkinan de-eskalasi konflik, sehingga sebagian besar sentimen positif sebenarnya sudah tercermin dalam harga. Ketika pidato Trump tidak memberikan kepastian, pelaku pasar memilih mengurangi risiko. Ini terlihat dari dominasi distribusi volume dan penurunan open interest di pasar derivatif,” kata Fyqieh dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Setelah sempat bertahan di kisaran 68.000 dolar AS menjelang pidato, Bitcoin justru terkoreksi ke level sekitar 66.000 dolar AS, seiring reaksi negatif pasar global terhadap eskalasi konflik yang berpotensi berlanjut.

Baca juga: Tokocrypto harapkan regulasi adaptif di bawah pimpinan baru IAKD OJK

Sebelum pidato berlangsung, pelaku pasar sempat mengantisipasi narasi “perang akan segera berakhir”, yang mendorong pergerakan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Namun, data intraday menunjukkan reli tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat.

Indikator Cumulative Volume Delta (CVD) menunjukkan dominasi tekanan jual sepanjang sesi perdagangan, sementara On-Balance Volume (OBV) mengindikasikan adanya distribusi aset, di mana pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga untuk keluar dari posisi, bukan menambah eksposur.

Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump menyampaikan bahwa AS akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan lini masa yang jelas terkait berakhirnya konflik.

Dampaknya, harga minyak melonjak lebih dari 5 persen dan memicu kekhawatiran inflasi global, sementara penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi menekan aset berisiko termasuk kripto.

Kondisi itu sejalan dengan tren global, di mana ketidakpastian geopolitik meningkatkan volatilitas pasar dan mendorong pergeseran ke aset yang lebih aman dalam jangka pendek.

Penurunan Bitcoin juga diikuti oleh melemahnya pasar derivatif. Data menunjukkan open interest futures Bitcoin turun dalam waktu singkat, mencerminkan berkurangnya minat serta meningkatnya kehati-hatian trader.

Volume perdagangan juga mengalami penurunan, menandakan minimnya dorongan beli yang kuat di tengah ketidakpastian makro.

Fyqieh menilai kondisi ini mencerminkan fenomena klasik “sell the news”, di mana ekspektasi positif telah lebih dulu diantisipasi pasar, namun tidak diikuti realisasi yang sesuai.

Baca juga: Indodax: BTC buktikan ketahanan di tengah ketidakpastian pasar global

Lebih lanjut, dirinya memproyeksikan dalam jangka pendek Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil.

“Selama Bitcoin masih berada di bawah area resistance 70.000-75.000 dolar AS, pergerakan harga cenderung sideways dengan risiko koreksi lanjutan, terutama jika tekanan makro seperti kenaikan harga energi dan suku bunga terus berlanjut,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam skenario negatif, Bitcoin berpotensi menguji kembali area support di kisaran 60.000 dolar AS, bahkan hingga 40.000-60.000 dolar AS jika tekanan geopolitik meningkat dan likuiditas pasar menurun. Namun, jika konflik mulai mereda dan likuiditas global kembali meningkat, Bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat secara bertahap.

Dalam jangka menengah hingga akhir 2026, prospek Bitcoin masih relatif positif. Sejumlah proyeksi menunjukkan harga berpotensi berada di kisaran 80.000 dolar AS hingga 100.000 dolar AS sebagai skenario dasar, dengan peluang kenaikan lebih tinggi jika didukung arus masuk institusi dan stabilitas makroekonomi.

Baca juga: Pajak tembus Rp1,96 T, Tokocrypto nilai industri kripto RI kian matang

“Secara fundamental, Bitcoin masih didukung oleh narasi jangka panjang seperti adopsi institusional dan efek pasca-halving. Namun dalam jangka pendek, pasar akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Artinya, volatilitas masih akan menjadi karakter utama dalam beberapa bulan ke depan,” tutup Fyqieh.

Adapun secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan pasar belum sepenuhnya percaya pada narasi optimisme jangka pendek.

Alih-alih mengejar kenaikan, pelaku pasar cenderung bersikap defensif dan menunggu perkembangan lebih lanjut dari dinamika geopolitik global sebelum menentukan arah tren berikutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinopis dan Ending Dracin Pursuit of Jade, Viral Sejak Tayang Awal Hingga Tamat
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Harga Beras Alami Sedikit Kenaikan di Kabupaten Cirebon
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BMKG Jelaskan Pemicu Gempa Bitung M7,6 Kamis Pagi
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Terapkan WFH Tiap Jumat, Pramono Siapkan Sanksi Bagi Pelanggar
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
BPS Sebut 3.934 Peserta PBI BPJS Penyintas Katastropik Meninggal Dunia
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.