BEI Optimistis Bobot Pasar Saham Indonesia Kian Besar dalam Jangka Panjang

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui pembukaan data granular investor dan konsentrasi kepemilikan saham (shareholding concentration) berpotensi membuat bobot saham Indonesia di indeks global menurun dalam jangka pendek.

Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan potensi penurunan bobot bisa terjadi setelah penyedia indeks global menilai data terbaru terkait granularitas investor yang kini berjumlah 39 subtipe dan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi.

"Jadi bisa saja ada potensi misalnya ada potensi penurunan bobot untuk saham-saham Indonesia yang baik dari hasil analisis granularisasi data maupun dari high shareholder concentration bisa saja mengakibatkan adanya penurunan bobot," ujar Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (2/4).

Menurut Jeffrey, risiko penurunan bobot saham Indonesia merupakan konsekuensi dari upaya regulator dan pelaku pasar dalam memperbaiki transparansi dan tata kelola pasar modal domestik.

Katanya, BEI tak memprediksi secara pasti akan terjadi penurunan bobot saham RI di indeks global. Namun, jika hal itu benar-benar terjadi, pasar modal Indonesia dinilai telah siap menghadapinya.

"Kita yakini walaupun untuk jangka pendek mungkin nanti ada penurunan tetapi untuk jangka panjang kita yakini itu akan membuat bobot Indonesia jauh lebih besar," katanya.

Jeffrey menilai pasar akan melihat kebijakan ini secara jangka panjang. Menurut dia, keterbukaan data justru dapat memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

"Tentu pasar akan punya mekanisme untuk melihat itu dan pasar itu kan selalu forward looking kalau pasar meyakini kalau untuk jangka panjang ini adalah sesuatu yang baik saya kira pasar akan bereaksi atau merespon secara positif malah ya terlepas dari bobot itu," ujarnya.

"Kita melakukan ini demi untuk meningkatkan transparansi tata kelola dan membuat bursa Indonesia itu setara dengan bursa global," sambung Jeffrey.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mulai membuka data high shareholding concentration, pada Kamis (2/4).

Publikasi ini dilakukan untuk memberikan tambahan informasi kepada investor mengenai saham-saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada sedikit pihak atau kelompok yang saling terafiliasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persiapan TKA Berbasis Komputer Masuki Tahap Akhir
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Polda Sulut lakukan pendataan & patroli mitigasi usai gempa M7,6 Kamis
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Tiga Prajurit TNI Gugur di Libanon, Gibran Sampaikan Duka Cita
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Foto: Luluh Lantak Diguncang Gempa Sulut-Malut 7,6 M
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Amsal Sitepu Membungkuk ke Anggota DPR: Terima Kasih Bapak, Saya Sudah Bebas
• 5 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.