JAKARTA, KOMPAS – Kinerja ekspor Indonesia mulai kehilangan tenaga pada awal 2026. Pertumbuhan yang hanya sekitar 1 persen secara tahunan pada Februari dinilai sebagai sinyal pelemahan serius, terutama di tengah lonjakan impor dan merosotnya aktivitas manufaktur.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar perlambatan biasa. Menurutnya, capaian ini mencerminkan tekanan struktural yang lebih dalam pada sektor perdagangan nasional.
“Kalau dibandingkan tren sebelumnya yang sempat dua digit di akhir 2025, ini menunjukkan mesin ekspor mulai kehilangan daya dorongnya, baik karena permintaan global melemah maupun tekanan harga komoditas,” ujar Rizal.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sepanjang Januari–Februari 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 44,32 miliar dolar AS atau tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sementara nilai ekspor Indonesia Februari 2026 mencapai 22,17 miliar dolar AS atau naik 1,01 persen dibanding ekspor Februari 2025. Ekspor nonmigas Februari 2026 mencapai 21,09 miliar dolar AS, naik 1,30 persen dibanding Februari 2025.
Di sisi lain, kinerja impor sepanjang Januari–Februari 2026, nilai impor mencapai 42,09 miliar dollar AS atau meningkat 14,44 persen secara tahunan. Kenaikan ini didorong impor nonmigas yang tumbuh 17,49 persen menjadi 36,93 miliar dollar AS.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, pada Januari-Febuari 2026 lonjakan impor terutama berasal dari bahan baku dan penolong yang mencapai 29,40 miliar dollar AS atau naik 9,27 persen periode yang sama tahun 2025 (c to c).
Secara keseluruhan pada Januari-Febuari bahan baku dan penolong menyumbang peningkatan tertinggi yaitu 69,84 persen. Lalu, diikuti oleh barang modal 21,61 persen (9,1 miliar dolar); dan barang konsumsi 8,55 persen (3,6 miliar dolar AS)
“Impor bahan baku penolong ini memberikan andil terhadap peningkatannya (nilai impor) sebesar 6,78 persen. Impor bahan baku penolong yang naik cukup besar terutama di sini logam mulia dan perhiasan atau permata, HS 71. Lalu, mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya, HS 85. Serta, juga yang naik berbagai produk kimia atau HS 38,” katanya.
Secara bulanan, impor Februari 2026 tercatat sebesar 20,89 miliar dollar AS atau naik 10,85 persen dibandingkan Februari 2025.
Rizal melanjutkan, kondisi ini menjadi peringatan dini bahwa peran ekspor sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi mulai menurun, terutama di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Di saat yang sama, impor justru tumbuh jauh lebih tinggi, terutama pada komponen bahan baku dan barang modal. Situasi ini, kata Rizal, meningkatkan risiko terhadap ketahanan eksternal Indonesia.
Selama ini, surplus perdagangan menjadi bantalan stabilitas ekonomi, termasuk dalam menjaga pasokan devisa dan stabilitas nilai tukar. Namun, dengan tren ekspor yang melambat dan impor yang meningkat, bantalan tersebut berpotensi menipis.
“Jika tren ini berlanjut, surplus bisa tergerus bahkan berbalik. Dampaknya bukan hanya pada neraca perdagangan, tetapi juga pada pasokan devisa yang menurun dan tekanan terhadap nilai tukar,” katanya.
Kondisi tersebut mempersempit ruang Indonesia dalam meredam guncangan global, sekaligus meningkatkan kerentanan pasar keuangan domestik.
Rizal juga menyoroti adanya ketidakseimbangan struktural yang tercermin dari perbedaan arah antara kinerja perdagangan dan indikator sektor riil. Meskipun neraca perdagangan masih surplus, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Maret 2026 turun tajam ke level 50,1.
Menurut dia, surplus perdagangan saat ini lebih banyak ditopang oleh faktor harga dan kinerja komoditas tertentu, bukan oleh penguatan sektor industri secara menyeluruh.
“Penurunan PMI dari 53,8 (Febuari) ke 50,1 menunjukkan aktivitas manufaktur mulai kehilangan momentum, baik karena permintaan melemah maupun tekanan biaya produksi yang meningkat,” ujarnya.
Rizal mengingatkan bahwa kenaikan impor bahan baku dan barang modal dalam situasi PMI Manufaktur yang melemah tidak sepenuhnya mencerminkan ekspansi industri. Dalam konteks saat ini, impor cenderung bersifat reaktif.
Pelaku industri, kata dia, terpaksa meningkatkan impor untuk menjaga kesinambungan produksi di tengah kenaikan harga input dan gangguan pasokan global. Kondisi ini berpotensi menekan margin usaha dan melemahkan daya tahan sektor manufaktur.
Tekanan biaya, terutama akibat kenaikan harga energi dan bahan baku, menjadi faktor kunci yang dapat menggerus daya saing ekspor Indonesia. Ketika biaya produksi meningkat sementara permintaan global melemah, ruang pelaku usaha untuk mempertahankan harga dan volume ekspor menjadi semakin terbatas.
Tanpa perbaikan produktivitas dan efisiensi struktural, risiko yang dihadapi tidak hanya bersifat jangka pendek. “Yang perlu diwaspadai adalah potensi melemahnya posisi Indonesia dalam persaingan global secara lebih permanen,” kata Rizal.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, penurunan PMI manufaktur Indonesia terutama dipicu oleh melemahnya permintaan, khususnya dari pasar ekspor.
Penurunan pesanan baru dari luar negeri menjadi faktor utama yang menahan laju produksi industri. Melemahnya kinerja manufaktur dalam negeri ini tidak terlepas dari kombinasi tekanan permintaan dan kenaikan biaya produksi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
“Pelemahan pesanan ekspor baru di tengah ketidakpastian global menjadi pemicu utama. Di sisi lain, industri juga menghadapi tekanan biaya akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok,” ujar Saleh, dalam pesan tertulisnya.
Menurut dia, kombinasi antara tekanan permintaan (demand shock) dan kenaikan biaya (cost pressure) tersebut membuat ekspansi industri melambat signifikan. Hal ini membuat posisi PMI turun dan mendekati level stagnasi di angka 50. Adapun level 50 ke atas masih menunjukan zona ekspansi. Sedangkan jika di bawah 50 menunjukan kontraksi.
Kondisi ini juga sejalan dengan meningkatnya tantangan yang dihadapi sektor manufaktur global, termasuk dampak konflik geopolitik yang memicu volatilitas harga energi serta gangguan distribusi bahan baku.
Ke depan, Saleh memperkirakan PMI manufaktur Indonesia masih berpotensi bertahan di zona ekspansi, tetapi dalam rentang yang sangat tipis. Artinya, sektor industri masih tumbuh, tetapi dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap tekanan eksternal.
Ia mengingatkan, pelemahan pesanan ekspor berisiko langsung memukul sektor industri, terutama yang padat karya. Dampaknya dapat berupa penurunan utilisasi kapasitas produksi, tergerusnya margin usaha, hingga potensi penyesuaian tenaga kerja.
“Maka dari itu arah dari PMI akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri,” kata Saleh.





