Konflik Iran vs Israel-AS, Biaya Ekspor Komoditas Gambir Sumbar Naik 100%

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, PADANG - Perdagangan komoditas gambir asal Provinsi Sumatra Barat ke India hingga Bangladesh turut terdampak perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat.

Eksportir gambir di Padang, Punit Kumar mengatakan semenjak adanya gejolak geopolitik di Timur Tengah dampak yang paling dirasakan adalah soal biaya ekspor yang naik mencapai 100%.

“Normalnya US$2.000 [sekitar Rp34 juta] per kontainer. Semenjak adanya perang Iran - Israel ini, biaya ekspor naik jadi US$4.000 [sekitar Rp68 juta] per kontainer. Sebagai pelaku usaha, pendapatan jadi turut signifikan,” katanya, Rabu (1/42026).

Dia menyebutkan komoditas gambir ini menjadi komoditas unggulan di Sumbar, karena memiliki pangsa pasar besar terhadap dunia dengan tujuan India, Pakistan, dan Bangladesh.

Artinya dari sisi permintaan untuk komoditas gambir asal Sumbar memiliki jumlah yang besar, bahkan bisa sampai ribuan ton per bulannya. Hanya saja, menghitung besarnya biaya pengiriman ini, pelaku usaha jadi harus pandai-pandai menerapkan strategi dan pengaturan volume barang.

Baca Juga : Penutupan Selat Hormuz Tekan Kinerja Ekspor Karet Sumut

“Biasanya per bulan itu bisa mengirim 7 kontainer. Sekarang kami melakukan 3 hingga 4 kontainer saja pada setiap bulannya. Karena kalau rutin seperti biasa, kami bisa merugi, karena biayanya terlalu besar,” ungkapnya.

Sedangkan terkait harga gambir yang dibeli, Punit menjelaskan kondisi harga terbilang cukup stabil, dan tergantung pada kualitas gambir yang dihasilkan petani.

“Kualitas gambir grade A itu sekarang Rp75.000 per kilogram, kemudian untuk grade B Rp55.000 per kilogram, dan grade C itu Rp40.000 per kilogram. Harga ini memang tergantung kualitas gambirnya. Bahkan juga mendapatkan kualitas buruk, kami tolak dan tidak kami beli,” tegasnya.

Menurutnya secara umum permintaan terhadap gambir Sumbar ini masih terbilang tinggi. Tapi kedepannya kondisi ini tidak bisa dianggap baik, karena di India dan Pakistan itu, telah menemukan kandungan katekin yang sama dengan gambir ini yakni dari kulit kacang mete.

“Jadi ada tantangan juga soal katekin gambir ini yakni dari kulit kacang mete. Secara kualitas masih bagus katekin gambir, tapi banyak pabrik di India dan Pakistan sudah menggunakan katekin dari kulit kacang mete,” jelasnya.

Oleh karena itu, Punit berharap petani gambir di Sumbar untuk terus meningkatkan kualitas gambir yang diproduksi, sehingga kebutuhan katekin dari kulit kacang mete tidak menjadi prioritas di negara tujuan.

“Kalau kualitas gambir ini terus turun, bisa-bisa katekin gambir tidak dipakai lagi, dan pelaku usaha di sana pakai katekin dari kulit kacang mete saja,” ungkapnya.

Bicara soal harga, seorang petani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Riko mengatakan saat ini harga gambir di tingkat petani hanya Rp18.000 per kilogram dengan kondisi kandungan air 18%. Harga tersebut merupakan harga yang paling rendang, dan membuat petani tidak bisa meraih untung.

“Harga gambir di tingkat petani anjlok, jujur semangat untuk ke kebun jadi turun,” jelasnya.

Riko bilang terkait kualitas gambir, selama ini petani gambir telah melakukan produksi daun gambir secara baik. Setelah hasil panen didapatkan, petani menjual ke pengepul gambir. 

“Selanjutnya pengepul mengolahnya dan bisa menjadi lebih kering. Kalau soal proses, saya rasa sudah baik dan benar,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PA Surabaya: Eks Suami Tak Bayar Nafkah Anak-Iddah Tak Bisa Ambil Akta Cerai
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Legislator: Jika Ingin Tekan Konsumsi BBM, Transportasi Publik Harus Dibenahi
• 4 jam lalukompas.com
thumb
AS lipatgandakan produksi sensor Rudal Patriot PAC-3 di tengah konflik
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Krisis Energi Global Memanas, DEN Ajak Masyarakat Bijak Gunakan BBM
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
9 Drakor Terbaru Tayang April 2026 dan Paling Dinanti, Bisa Nonton di Netflix
• 22 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.