Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemunculan subvarian baru COVID-19 yakni BA.3.2 atau yang dikenal sebagai Cicada.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan gejala yang ditimbulkan varian Cicada pada dasarnya tidak berbeda dengan COVID-19 pada umumnya.
“Gejalanya sama seperti COVID biasa, seperti batuk, pilek, demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan,” kata Aji kepada kumparan, Kamis (2/4).
Ia menjelaskan, tidak ada gejala khusus yang membedakan varian ini dengan COVID-19. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada jika mengalami gejala mirip flu.
Dari sisi penanganan, Aji menegaskan langkahnya juga serupa dengan COVID-19 secara umum. Pasien yang terkonfirmasi dianjurkan menjalani isolasi mandiri, terutama jika menunjukkan gejala.
“Penanganannya sama seperti COVID pada umumnya. Jika terbukti terinfeksi, tetap perlu isolasi mandiri,” ujarnya.
Jaga Pola Hidup Sehat Jadi Kunci Cegah CicadaUntuk mencegah penularan, Kemenkes menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini dinilai paling efektif untuk menekan risiko infeksi, termasuk dari varian baru.
Beberapa upaya yang dianjurkan antara lain, rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengkonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, serta menggunakan masker saat sakit atau berada di keramaian
Aji juga menambahkan, masyarakat tidak perlu melakukan pembatasan perjalanan ke luar negeri untuk saat ini karena tingkat risiko subvarian Cicada masih rendah.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat mobilitas global memungkinkan penyebaran virus antarnegara.
Meski belum terdeteksi di Indonesia, Kemenkes, kata Aji, terus melakukan surveilans, pelaporan rutin, serta pengujian laboratorium guna memantau perkembangan varian Cicada.
Sebagai informasi, varian BA.3.2 atau Cicada merupakan turunan dari Omicron BA.3 dan ditetapkan sebagai Varian Under Monitoring (VUM) sejak 5 Desember 2025 oleh WHO.





