Angka Pengangguran Sarjana vs Non-Sarjana Imbang, Tanda Gelar Tak Lagi Sakti?

viva.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Fenomena baru tengah terjadi di pasar kerja global, khususnya di kalangan Generasi Z (Gen Z). Gelar sarjana yang selama ini dianggap sebagai “tiket emas” mewujudkan impian karier kini mulai kehilangan daya tariknya. 

Data terbaru menunjukkan bahwa pria muda lulusan perguruan tinggi kini menghadapi tingkat pengangguran yang hampir sama dengan mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Baca Juga :
Mengenal Hari Pengangguran Internasional yang Jatuh pada 6 Maret, Begini Awal Mula Sejarahnya
PHK Meluas, Lowongan Kerja Seret! 1,8 Juta Orang Terjebak Jadi Pengangguran Jangka Panjang

Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa nilai pendidikan tinggi dalam meningkatkan peluang kerja mulai memudar, terutama untuk pekerjaan entry-level.

Berdasarkan data dari Federal Reserve, tingkat pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi baru mencapai sekitar 5,6 persen. Meski angka ini masih lebih rendah dibandingkan tingkat pengangguran 7,8 persen untuk seluruh pekerja muda usia 22 hingga 27 tahun, tren kenaikan tetap menjadi perhatian.

Hal yang lebih mengejutkan, analisis data Current Population Survey oleh Financial Times menunjukkan bahwa pria muda lulusan kuliah kini memiliki tingkat pengangguran yang hampir sama dengan pria yang tidak pernah kuliah.

Sebagai perbandingan, sekitar tahun 2010, tingkat pengangguran pria tanpa gelar mencapai lebih dari 15 persen, sementara lulusan perguruan tinggi berada di kisaran 7 persen. Perbedaan signifikan ini kini nyaris menghilang.

Fenomena ini menjadi indikasi kuat bahwa keuntungan yang dulu dijanjikan oleh pendidikan tinggi dalam dunia kerja kini semakin menipis. Perusahaan juga mulai mengurangi persyaratan gelar untuk posisi entry-level, dan lebih fokus pada keterampilan praktis. 

Menariknya, tren ini tidak berlaku sama untuk perempuan. Tingkat pengangguran perempuan lulusan perguruan tinggi berada di kisaran 4 persen, lebih rendah dibandingkan pria yang mencapai sekitar 7 persen.

Salah satu faktor pendorongnya adalah pertumbuhan pesat di sektor kesehatan, yang banyak diminati oleh perempuan. Dalam satu dekade ke depan, sektor ini diproyeksikan membuka sekitar 1,9 juta lapangan kerja setiap tahunnya menurut Bureau of Labor Statistics.

“Layanan kesehatan adalah industri yang klasik tahan resesi karena perawatan medis selalu dibutuhkan,” ujar Priya Rathod, pakar karier di Indeed, sebagaimana dikutip dari Fortune, Jumat, 3 April 2026.

Selain itu, terdapat perbedaan sikap antara pria dan perempuan dalam menerima pekerjaan. “Perempuan cenderung lebih fleksibel dalam menerima tawaran pekerjaan, bahkan jika tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan karier mereka atau bersifat paruh waktu atau mereka terlalu berkualifikasi untuk itu,” kata Lewis Maleh, CEO Bentley Lewis.

Baca Juga :
AI Diprediksi Ciptakan Pengangguran Massal, Kelas Menengah Paling Terpukul
Drama China Meledak, Jadi Ladang Kerja Baru Buat Ratusan Ribu Anak Muda di Tiongkok
BPS Klaim Jumlah Pengangguran Turun Jadi 7,35 Juta Orang, Cek Datanya

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
UKT IPB 2026 Jalur SNBP dan SNBT, Yuk Intip!
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Ramadan sebagai Bulan Tarbiyah Karakter Anak
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Libur Jumat Agung, Lalu Lintas Jakarta Lancar Pagi Ini
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Bukan dari Promotor Profesional, Konser Ini Dibangun Mahasiswa UGM dari Nol
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Kementerian Kebudayaan Luncurkan Dana IndonesiaRaya, Transformasi Program Dana Indonesiana
• 1 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.