Bisnis.com, JAKARTA — Emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) menyiapkan sejumlah strategi guna mengantisipasi risiko dampak dari konflik Timur Tengah, salah satunya yaitu memacu produksi komponen kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan, beberapa langkah mitigasi yang dilakukan perseroan, antara lain dengan peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta menjaga fleksibilitas produksi agar tetap adaptif terhadap fluktuasi permintaan.
"Selain itu, perseroan juga terus memperkuat diversifikasi portofolio produk, termasuk pengembangan komponen kendaraan listrik, guna mengurangi ketergantungan terhadap segmen tertentu dan menjaga kinerja tetap resilien di tengah dinamika global," ujar Irianto kepada Bisnis, Kamis (2/4/2026).
Adapun, meningkatnya tensi geopolitik turut memengaruhi jalur distribusi global. Konflik Iran dengan AS-Israel mendorong harga minyak Brent menembus US$100 per barel, disertai pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.000 per dolar AS.
Irianto mengatakan, kenaikan harga minyak dunia sebagai dampak dari dinamika geopolitik global tentu menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati oleh industri otomotif, termasuk sektor komponen.
"Dampak utamanya berpotensi terlihat pada kenaikan biaya logistik dan distribusi, serta tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat potensi kenaikan harga bahan bakar. Hal ini pada akhirnya dapat memengaruhi permintaan kendaraan, terutama kendaraan roda empat, jelasnya.
Baca Juga
- Emiten TP Rachmat Dharma Polimetal (DRMA) Cetak Laba Rp652,6 Miliar pada 2025
- Dharma Polimetal (DRMA) Bidik Cuan dari Fast Charging Station Kendaraan Listrik
- Dharma Polimetal (DRMA) Ungkap Proyeksi Bisnis saat Pasar Otomotif Lesu
Kendati demikian, dengan diversifikasi produk, DRMA optimistis dapat menjaga stabilitas kinerja serta tetap memanfaatkan peluang pertumbuhan yang ada, meskipun dihadapkan pada tantangan eksternal.
Menurutnya, DRMA memiliki komitmen kuat melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi melalui Dharma Connect (DC), yang dirancang sebagai platform kolaboratif yang skalanya dapat terus ditingkatkan.
Alhasil, diversifikasi produk komponen kendaraan listrik merupakan salah satu jurus jitu bagi industri komponen. Terlebih, pasar mobil listrik mengalami pertumbuhan eksponensial dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) melonjak dari 2021 yang hanya sebanyak 687 unit menjadi 103.931 unit pada 2025, atau setara 12,93% pasar mobil secara nasional.
Menilik kinerja keuangannya, DRMA mencatatkan laba bersih senilai Rp652,6 miliar pada 2025. Capaian itu naik 12,6% dibandingkan dengan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sepanjang 2024 senilai Rp579,3 miliar.
Sejalan dengan pertumbuhan laba bersih, penjualan bersih DRMA naik 7,8% dari Rp5,507 triliun pada 2024 dibandingkan dengan pada Rp5,93 triliun.





