Jakarta (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M. Kholid Syeirazi menyatakan pemerintah dan Pertamina berusaha melakukan upaya terbaik untuk menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di tanah air untuk itu masyarakat hendaknya tetap tenang, tidak perlu panik dan tetap beraktivitas seperti biasa.
"Masyarakat harus tenang. Buat apa panik? Karena situasi sekarang juga dialami di seluruh dunia. Bahkan, kondisi kita jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain," kata Kholid di Jakarta, Kamis.
Dibandingkan negara-negara lain, termasuk Asia Tenggara, lanjutnya, kondisi energi Indonesia lebih baik, misalnya harga BBM di Vietnam mengalami kenaikan signifikan dari Rp12.700/liter menjadi Rp19.100/liter di Thailand, dari Rp16.500/liter menjadi Rp24.000/liter, Laos dari Rp22.700/liter menjadi Rp30.200/liter.
Selain itu, tambahnya, stok BBM juga di atas 20 hari, jumlah itu lebih tinggi di atas cadangan operasional minimal yang ditetapkan BPH Migas.
Menurut dia, sikap tenang masyarakat akan sangat membantu pemerintah dan Pertamina, yang saat ini berusaha melakukan upaya terbaik untuk menjaga ketersediaan pasokan. Masyarakat, jelasnya, juga harus bijak dalam mengkonsumsi energi, termasuk BBM.
"Pertamina tentu berusaha melakukan usaha terbaik untuk menjaga ketersediaan. Upaya itu terus dilakukan, meski sekarang tidak mudah mendapatkan suplai. Tetapi, Pemerintah dan Pertamina tentu tidak bisa sendirian. Harus didukung masyarakat," ujar dia dalam keterangannya.
Dia menegaskan masyarakat harus tahu bahwa saat ini kondisi BBM global memang sedang tidak baik, akibat perang Iran melawan AS dan Israel.
"Kalau dalam kondisi seperti sekarang dan kemudian kita bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, justru berbahaya. Tidak punya sense of crisis," katanya.
Begitu pula penyesuaian harga BBM, menurut dia, dalam kondisi krisis energi global seperti sekarang, merupakan upaya untuk mengurangi beban fiskal dalam menanggung beban subsidi dan kompensasi.
Kholid mencontohkan, setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel, akan ada tambahan potensi kenaikan beban subsidi dan kompensasi sebesar Rp10,3 triliun.
Dengan demikian, jika harga minyak sekarang sudah di atas 100 dolar AS per barel, tentu berdampak pada tingginya beban kapasitas fiskal.
"Solusinya bagaimana? Sebagian harus dialihkan kepada masyarakat dalam bentuk kenaikan harga BBM," katanya.
Senada dengan itu Anggota Komisi XII DPR RI Sartono Hutomo mengapresiasi langkah Pertamina yang berusaha menjaga ketersediaan stok BBM di tengah tekanan krisis energi global.
"Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa informasi ketersediaan jaminan stock tersebut disampaikan secara terukur dan mudah dipahami masyarakat agar publik merasa aman dan tidak mudah terprovokasi," ujarnya.
Selain itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi informasi kenaikan harga BBM yang belum terverifikasi.
"Masyarakat tidak perlu melakukan penimbunan BBM karena justru akan memperburuk kondisi distribusi dan merugikan masyarakat luas. Pastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi pemerintah atau Pertamina,” katanya.
Baca juga: Anggota DEN: Anjuran IEA sesuai skenario transisi energi Indonesia
Baca juga: Prabowo ratas dengan DEN, pastikan pasokan stok BBM dan gas aman
Baca juga: Menteri ESDM pimpin Sidang DEN, sikapi dinamika di Timur Tengah
"Masyarakat harus tenang. Buat apa panik? Karena situasi sekarang juga dialami di seluruh dunia. Bahkan, kondisi kita jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain," kata Kholid di Jakarta, Kamis.
Dibandingkan negara-negara lain, termasuk Asia Tenggara, lanjutnya, kondisi energi Indonesia lebih baik, misalnya harga BBM di Vietnam mengalami kenaikan signifikan dari Rp12.700/liter menjadi Rp19.100/liter di Thailand, dari Rp16.500/liter menjadi Rp24.000/liter, Laos dari Rp22.700/liter menjadi Rp30.200/liter.
Selain itu, tambahnya, stok BBM juga di atas 20 hari, jumlah itu lebih tinggi di atas cadangan operasional minimal yang ditetapkan BPH Migas.
Menurut dia, sikap tenang masyarakat akan sangat membantu pemerintah dan Pertamina, yang saat ini berusaha melakukan upaya terbaik untuk menjaga ketersediaan pasokan. Masyarakat, jelasnya, juga harus bijak dalam mengkonsumsi energi, termasuk BBM.
"Pertamina tentu berusaha melakukan usaha terbaik untuk menjaga ketersediaan. Upaya itu terus dilakukan, meski sekarang tidak mudah mendapatkan suplai. Tetapi, Pemerintah dan Pertamina tentu tidak bisa sendirian. Harus didukung masyarakat," ujar dia dalam keterangannya.
Dia menegaskan masyarakat harus tahu bahwa saat ini kondisi BBM global memang sedang tidak baik, akibat perang Iran melawan AS dan Israel.
"Kalau dalam kondisi seperti sekarang dan kemudian kita bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, justru berbahaya. Tidak punya sense of crisis," katanya.
Begitu pula penyesuaian harga BBM, menurut dia, dalam kondisi krisis energi global seperti sekarang, merupakan upaya untuk mengurangi beban fiskal dalam menanggung beban subsidi dan kompensasi.
Kholid mencontohkan, setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel, akan ada tambahan potensi kenaikan beban subsidi dan kompensasi sebesar Rp10,3 triliun.
Dengan demikian, jika harga minyak sekarang sudah di atas 100 dolar AS per barel, tentu berdampak pada tingginya beban kapasitas fiskal.
"Solusinya bagaimana? Sebagian harus dialihkan kepada masyarakat dalam bentuk kenaikan harga BBM," katanya.
Senada dengan itu Anggota Komisi XII DPR RI Sartono Hutomo mengapresiasi langkah Pertamina yang berusaha menjaga ketersediaan stok BBM di tengah tekanan krisis energi global.
"Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa informasi ketersediaan jaminan stock tersebut disampaikan secara terukur dan mudah dipahami masyarakat agar publik merasa aman dan tidak mudah terprovokasi," ujarnya.
Selain itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi informasi kenaikan harga BBM yang belum terverifikasi.
"Masyarakat tidak perlu melakukan penimbunan BBM karena justru akan memperburuk kondisi distribusi dan merugikan masyarakat luas. Pastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi pemerintah atau Pertamina,” katanya.
Baca juga: Anggota DEN: Anjuran IEA sesuai skenario transisi energi Indonesia
Baca juga: Prabowo ratas dengan DEN, pastikan pasokan stok BBM dan gas aman
Baca juga: Menteri ESDM pimpin Sidang DEN, sikapi dinamika di Timur Tengah





