Budaors, VIVA – Momen yang biasanya hanya formalitas sebelum pertandingan, tiba-tiba berubah menjadi sorotan global. Sesi salaman jelang laga antara Timnas Israel U-21 dan Timnas Bosnia dan Herzegovina U-21 dalam Kualifikasi Piala Eropa U-21 2027 justru memantik perdebatan luas.
Alih-alih berjabat tangan seperti tradisi sepak bola pada umumnya, para pemain Bosnia memilih berjalan lurus melewati barisan pemain Israel. Aksi singkat itu terjadi sebelum kick-off di BSC Stadium, Budaors, Hungaria, Selasa malam waktu setempat.
Pertandingan sendiri berakhir tanpa gol, 0-0. Hasil tersebut membuat Bosnia dan Herzegovina menempati posisi kedua Grup G dengan tujuh poin dari enam laga, sementara Israel berada tepat di bawahnya dengan jumlah poin yang sama. Namun, bukan hasil pertandingan yang menjadi perhatian utama.
Video momen tersebut dengan cepat menyebar di media sosial. Reaksi publik pun terbelah. Sebagian menilai tindakan itu tidak mencerminkan sportivitas, sementara lainnya melihatnya sebagai bentuk sikap moral dan solidaritas di tengah konflik global yang masih berlangsung.
"Itu hal yang wajar, karena Bosnia Herzegovina kan mayoritas muslim di Eropa," tulis salah satu komentar di media sosial.
Dalam konteks sepak bola modern, gestur sebelum pertandingan seperti salaman kerap dipandang sebagai simbol respek universal. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa olahraga tidak pernah benar-benar terpisah dari dinamika politik dan kemanusiaan.
Kapten Bosnia Angkat BicaraSorotan semakin tajam setelah kapten Bosnia U-21, Muhamed Buljubasic, akhirnya memberikan penjelasan melalui akun Instagram pribadinya.
"Saya ingin menyampaikan mengenai apa yang terjadi dalam pertandingan kemarin antara tim kami dan tim nasional Israel," tulisnya.
Sebagai kapten, Buljubasic menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan tindakan spontan, melainkan sikap yang telah ia sampaikan kepada tim sebelum pertandingan.
"Sebagai kapten tim, sebelum pertandingan kemarin saya telah menegaskan dengan sikap yang tegas bahwa tanah air saya dan orang tua saya tidak pernah mendidik saya untuk menundukkan punggung di hadapan mereka yang membawa dunia ini menuju kehinaan dan kekerasan," jelas Buljubasic.





