Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan membawa AS keluar dari NATO. Dilansir reuters, Trump merasa tak dibantu aliansi pertahanan Atlantik Utara itu saat menggempur Iran.
"Oh tentu saja iya (keluar dari NATO), saya akan bilang iya tanpa pertimbangan lagi," kata Trump, saat wawancara khusus dengan media Inggris Daily Telegraph via Reuters, Rabu (1/4).
Trump sempat kesal dengan aliansi ini. Bahkan, ia menyebut NATO sebagai 'Macan Kertas'. Ia juga meragukan kredibilitas NATO.
"Saya tak pernah terpengaruh NATO. Saya selalu tau, mereka itu macan kertas, Putin juga tahu hal itu kok," pungkas Trump.
Ancaman Trump ini lalu menuai respons dari berbagai negara, berikut kumparan rangkum.
Jepang soal Trump Mau Keluar NATO: Jangan Ganggu Stabilitas Dunia
Pemerintah Jepang buka suara terkait pernyataan Trump yang mempertimbangkan untuk menarik negaranya dari NATO. Tokyo menegaskan, langkah tersebut tidak boleh mengganggu stabilitas global, terutama hubungan antara AS dan Eropa.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara pada Kamis (2/4) menyebut negaranya berharap hubungan antara AS dan negara-negara Eropa tetap stabil di tengah dinamika tersebut.
“Negara kami mengharapkan hubungan yang stabil antara Amerika Serikat dan Eropa. Kami akan terus memantau perkembangan terkait dengan penuh perhatian dan merespons secara tepat,” ujar Kihara, dilansir Reuters.
Pernyataan ini muncul setelah Trump sedang mempertimbangkan kemungkinan menarik AS dari NATO, aliansi pertahanan yang selama ini menjadi pilar utama keamanan kawasan Euro-Atlantik.
Bagi Jepang, stabilitas hubungan AS dan Eropa memiliki dampak langsung terhadap keamanan global. Jepang sendiri merupakan salah satu mitra NATO di kawasan Indo-Pasifik, bersama Australia, Korea Selatan, dan Selandia Baru.
PM Starmer Tanggapi Rencana Trump Keluar NATO: Saya Bertindak Atas Nama Inggris
Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menanggapi komentar Trump yang mengatakan akan keluar dari NATO. Starmer seolah tak menghiraukan ancaman Trump itu.
"Tekanan apa pun yang saya terima, apa pun kegaduhannya, saya hanya akan bertindak untuk kepentingan nasional Inggris dalam setiap keputusan yang saya ambil," kata Starmer, dilansir Reuters.
Jerman soal Trump Mau Keluar NATO: Kami Tetap Berkomitmen di NATO
Pemerintah Jerman turut menanggapi rencana Presiden Donald Trump yang akan bawa Amerika Serikat keluar dari NATO.
"Ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal ini, ini fenomena yang berulang, anda bisa mempertimbangkan konsekuensinya sendiri," kata Jubir Pemerintah Jerman, dilansir Reuters, Rabu (1/4).
Jerman adalah salah satu negara paling kuat di aliansi Atlantik tersebut. Posisinya yang berada di tengah-tengah Eropa, jadi tempat strategis bagi penempatan pasukan.
AS dikenal punya beberapa markas dan pangkalan militer di negara ini.
"Tapi, ini bukan kapasitas saya untuk berkomentar terkait kata-kata presiden (Trump). Sederhananya, saya mewakili pemerintah Jerman menyatakan bahwa kami masih, dan tentu saja, berkomitmen pada NATO," katanya.
Macron: Trump Lemahkan NATO dengan Ciptakan Keraguan
Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (2/4) menilai Trump melemahkan NATO dengan terus menimbulkan keraguan soal komitmen AS.
Pernyataan Macron soal aliansi pertahanan Atlantik Utara itu menegaskan kekhawatiran Eropa atas sikap Trump yang dinilai tidak konsisten terhadap aliansi pertahanan tersebut.
Macron menyampaikan hal itu saat kunjungan kenegaraan ke Seoul, Korea Selatan, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdebatan soal peran AS dalam NATO.
Ia menilai pernyataan-pernyataan Trump justru merusak kepercayaan di dalam aliansi.
“Jika Anda menciptakan keraguan setiap hari tentang komitmen Anda, maka Anda akan mengosongkan makna aliansi itu sendiri,” ujarnya, menyindir Trump.
Ia juga menyoroti banyaknya pernyataan yang dinilai tidak sejalan dan membingungkan arah kebijakan. Menurut Macron, kondisi ini berpotensi melemahkan solidaritas antarnegara anggota NATO yang selama ini menjadi pilar keamanan kawasan Barat.
Apa yang Terjadi Jika AS Benar-benar Tinggalkan NATO?
Lalu, apa yang terjadi jika AS benar-benar keluar dari NATO? Dampaknya bisa diukur dari sebaran pasukan AS yang berada di Eropa.
Data dari situs resmi Conggresional Research Service (CRS) menyajikan data-data sebaran pasukan itu.
CRS adalah sebuah lembaga di bawah kongres AS, yang menyajikan data untuk anggota kongres.
Berikut sebarannya:
Jumlah Pasukan AS di Eropa: 80 Ribu Personel
Per Maret 2024, AS menggelar 67.200 pasukannya di sejumlah markas di Eropa. Konsentrasi pasukan terbesar ada di Jerman, dengan 35.068 pasukan. Diikuti Italia 12.375 pasukan, dan Inggris 10.058 pasukan.
Namun, jumlah ini bertambah pada Juni 2024.
"Akan ada tambahan 20.000 pasukan ke Eropa untuk merespons krisis di Ukraina, termasuk kekuatan udara, darat, maritim, siber dan kapabilitas luar angkasa," kata Kementerian Pertahanan AS kala itu.
Sehingga diperkirakan ada 80 ribu pasukan AS di Eropa saat ini.
Lalu, AS juga punya 43 markas di seluruh Eropa. Ada 29 pangkalan permanen, dan 14 pangkalan semi permanen atau rotasional. Pangkalan itu tersebar dari Pituffik Space Base di Greenland, Camp Turzii di Rumania, Lanud Moron di Spanyol hingga fasilitas pendukung AL di Teluk Souda, Yunani.
Namun, pangkalan-pangkalan ini bersifat interoperabilitas dengan militer NATO lainnya. Artinya, pangkalan ini digunakan bersama negara-negara lain.
Dari komposisi pasukan, AS menggelar batalyon-batalyon tempurnya di pangkalan-pangkalan itu. Ada juga skadron-skadron tempur AU AS. Semua pasukan yang ada di Eropa berada di bawah komando EUCOM yang berada di Stuttgart, Jerman.
Anggaran Belanja Pertahanan AS Paling Besar di NATO
AS bisa disebut sebagai tulang punggung NATO. Sebab, mereka adalah angkatan perang paling besar di antara negara-negara NATO. Berikut daftar dari beberapa negara-negara utama NATO:
AS: 1.300.200
Turki: 481.000
Polandia: 216.100
Prancis: 204.700
Jerman: 185.600
Italia: 171.400
Inggris: 138.100
Spanyol: 117.400
Yunani: 110.800
Jika digabung dengan keseluruhan 32 anggota NATO, pakta pertahanan ini punya 3,4 juta personel aktif. Dari jumlah itu, 38 persen adalah personel dari AS.
Dalam keterangan pers yang diberikan NATO, terkait data anggaran belanja pertahanan dari 2021-2025, AS masih menempati negara dengan alokasi pertahanan paling besar dibanding negara-negara NATO Eropa plus Kanada.
Pada 2021, total belanja mencapai 1183 miliar dolar AS, dengan kontribusi AS 824 dan Eropa-Kanada 359. Tahun 2022 sedikit turun menjadi 1151 miliar dolar AS (AS 779, Eropa-Kanada 372), kemudian kembali meningkat pada 2023 menjadi 1180 miliar dolar AS (AS 773, Eropa-Kanada 407).
Untuk estimasi 2024, total belanja melonjak ke USD 1.305 miliar, terdiri dari AS 823 dan Eropa-Kanada 482. Pada 2025, total diperkirakan mencapai 1404 miliar dolar AS, dengan kontribusi Amerika Serikat USD 845 miliar dan NATO Eropa serta Kanada USD 559 miliar.
Implikasi Ke Depan
Lembaga think-tank International Institute for Strategic Studies (IISS) menjelaskan analisis mereka. Mundurnya AS dari NATO akan berimplikasi langsung pada pendanaan dan investasi pertahanan bagi Eropa.
Terutama, menghadapi ancaman Rusia terhadap NATO. Mereka mensimulasikan, jika perang Ukraina berakhir pada 2025, dan AS menarik diri dari NATO untuk fokus ke kawasan Indo-Pasifik, Rusia bisa saja mengambil kesempatan untuk mengancam Eropa.
"Rusia dinilai dapat kembali menjadi ancaman signifikan paling cepat pada 2027, khususnya terhadap negara Baltik. Kekuatan darat Rusia bisa menyamai kondisi Februari 2022, saat mereka mengumpulkan kekuatan menginvasi Ukraina," kata analisa IISS itu.
Selain itu, jika AS keluar, Eropa harus mengganti 128.000 pasukan, dan menutup kekurangan pada sektor intelijen, survei dan pengintaian (ISR).
"Dibutuhkan biaya sekitar 1 triliun dolar belanja pertahanan. Mereka juga perlu menaikkan level belanja pertahanan sekitar 3% dari GDP," kata IISS.





