Penulis: Fityan
TVRINews, Ituri
Serangan kelompok pemberontak ADF hanguskan puluhan rumah warga di Provinsi Ituri.
Kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan ISIL (ISIS), Allied Democratic Forces (ADF), kembali melancarkan aksi kekerasan mematikan di wilayah timur laut Republik Demokratik Kongo (DRC).
Otoritas militer setempat mengonfirmasi sedikitnya 43 warga sipil tewas dalam serangan terencana yang terjadi di Provinsi Ituri.
Militer Sebut Pemberontak Bakar Puluhan Rumah Warga
Juru bicara militer regional, Letnan Jules Tshikudi Ngongo, menyatakan pada hari Kamis bahwa insiden berdarah tersebut terjadi di Bafwakoa, wilayah Mambasa.
Selain menelan korban jiwa, serangan yang dilancarkan pada kamis 2 April 2026 itu juga menghanguskan pemukiman penduduk.
"Sedikitnya 43 rekan kami tewas dan 44 rumah dibakar," ujar Ngongo sebagaimana dilaporkan oleh The Associated Press.
Administrator wilayah Mambasa, Baptiste Munyapandi, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa operasi pencarian masih terus berlangsung. Pihaknya memperingatkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan besar akan terus bertambah seiring penyisiran di lokasi kejadian.
Metode Serangan yang Brutal
Laporan lapangan menggambarkan situasi yang mencekam saat serangan berlangsung. Christian Alimasi, seorang pejabat adat setempat di Mambasa, menjelaskan kepada Reuters bahwa para pelaku menggunakan senjata tajam dan api dalam aksinya.
Beberapa korban tewas akibat luka sabetan parang, sementara yang lain terjebak dan terbakar di dalam rumah mereka sendiri. Selain menjatuhkan korban jiwa, dua orang dilaporkan diculik oleh kelompok tersebut.
Militer Kongo saat ini menghadapi tekanan besar karena harus bertempur di beberapa front sekaligus.
Selain menghadapi ADF, tentara juga berupaya meredam kelompok M23 yang didukung Rwanda, yang tahun lalu sempat menguasai Goma kota terbesar di wilayah timur serta beberapa kota strategis lainnya.
Letnan Ngongo menekankan bahwa ADF cenderung menghindari kontak senjata langsung dengan militer dan memilih menyasar warga sipil sebagai bentuk sabotase terhadap upaya perdamaian.
"ADF menghindari pertempuran langsung dengan tentara dan semua mitranya. Itulah sebabnya mereka menyerang penduduk sebagai cara untuk menyabotase upaya perdamaian dan melakukan aksi balas dendam terhadap rakyat kami," tegas Ngongo.
Eskalasi Kekerasan yang Meningkat
Meskipun operasi militer gabungan antara Kongo dan Uganda telah diluncurkan sejak 2021, intensitas serangan ADF di Ituri dan Kivu Utara justru meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data dari Insecurity Insight, sebuah organisasi riset yang menganalisis kekerasan terhadap warga sipil, ADF bertanggung jawab atas sekitar seperempat dari total kekerasan yang dilaporkan di wilayah timur DRC antara tahun 2020 hingga 2025.
Tragedi ini menambah panjang catatan hitam keamanan di wilayah tersebut, menyusul insiden tahun lalu di mana ADF membunuh 66 orang dan menculik sejumlah warga di area yang berdekatan.
Editor: Redaksi TVRINews




