Manusia yang (Masih) Gagal Menyelamatkan Bumi

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bumi seakan menampilkan satu fakta bahwa manusia masih gagal untuk menyelamatkannya. Pernyataan ini dapat dibuktikan lewat ketidakadilan, pemusnahan, dan perang yang masih berlangsung hingga kini.

Pada 28 Februari 2026, masih di awal tahun 2026, terjadi perang hebat antara Iran dan Israel-Amerika Serikat. Serangan dalam skala besar menargetkan aset militer Iran dan pemimpin tertinggi Republik Islam, Ayatollah Ali Khamenei (cfr.org).

Bila mundur ke 2023, ada perang di jalur Gaza antara Israel dan militan Palestina, khususnya Hamas, sejak 7 Oktober 2023. Perang berawal dari serangan darat, laut, dan udara oleh Hamas ke Israel.

Tujuan perang adalah membubarkan Hamas dan membawa kembali lebih dari 240 orang yang disandera sejak serangan 7 Oktober (britannica.com).

Di tempat lain, Sudan mengalami konflik internal yang cukup brutal. Angkatan Bersenjata Sudan (SAF: Sudanese Amed Forces) dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF: Rapid Support Forces) saling menyerang sejak April 2023.

Perang ini telah menghancurkan komunitas, menyebabkan jutaan orang mengungsi dan memperburuk krisis kemanusiaan (news.un.org).

Bila mundur lebih jauh lagi, ada perang (berkelanjutan) antara Rusia (bersama pasukan separatis pro-Rusia) dan Ukraina. Konflik ini telah dimulai pada Februari 2014 dan semakin meluas secara signifikan ketika Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Rusia ingin menghentikan perluasan NATO ke timur dan mengembalikan Ukraina ke orbit pengaruh Rusia. Selain itu, fakta historis, aneksasi Krimea 2014 dan perlindungan separatis di Donbas menjadi pemicu utama perang.

Tentunya, masih ada lagi perang dan konflik di pelbagai tempat, wilayah, dan negara. Perang dan konflik membuat bumi rusak dan porak-poranda.

Ekosistem hancur. Dunia gagal melindungi bumi. Alih-alih menjaga kedamaian dan keadilan, manusia memberi kontribusi pada bencana ekologis global.

Kegagalan ini muncul dalam paradoks yang menyakitkan. Ilmu pengetahuan dan industri membantu manusia semakin efektif dan sejahtera. Namun, di sisi lain manusia gagal mempertahankan hakikat kehidupan bersama.

Manusia gagal mempertahankan eksistensi ontologisnya yang jauh lebih tinggi dan mulia daripada benda-benda yang ada di sekitarnya. Manusia justru menjadi hamba ilmu pengetahuan dan industri dalam pola yang kompleks.

Logika Kegagalan

Kegagalan menata perdamaian dan lingkungan bukan insiden random. Ada logika yang terpolarisasi di dalamnya. Apa itu?

Pertama, ada motif perebutan kekuasaan dan sumber daya tanpa akhir. Garrett Hardin dalam teori Tragedy of the Commons (1968) menjelaskan bahwa manusia cenderung mengeksploitasi sumber daya, tetapi tidak memperhitungkan efek atau dampak jangka panjang.

Teori ini semakin diperkuat dengan “kebijakan militer” yang dipakai untuk melanggengkan usaha eksploitasi. Situasi ini (pola kedua)—bagi Ulrich Beck dalam Risk Society (1986)—semakin memperluas kerusakan yang melebihi batas moral masyarakat.

Eksploitasi yang dilakukan oleh manusia sudah tidak terkontrol. Kita hanya bisa menangisi akibatnya. Kita gagal mengontrolnya. Ketegangan dan kekerasan menjadi konsekuensi yang sulit untuk diubah.

Dalam kerangka ini, kekerasan bukan hanya soal tentara atau kekuatan militer, melainkan juga struktur politik-ekonomi dunia.

Ketiga, kekerasan seolah-olah dibuat terstruktur. Johan Galtung dalam teori Violence and Conflict (1969) menyebutkan bahwa sistem global yang timpang menciptakan kondisi di mana konflik menjadi hampir tak terhindarkan.

Bagi Galtung, dunia selalu hadir setelah kehancuran terjadi. Dunia memang memberikan reaksi, tapi jarang, bahkan gagal mencegah. Logika yang masih umum adalah menyembuhkan daripada mencegah (cure rather than prevent).

Sayangnya, dampak perang sering kali permanen. Korban manusia, flora, fauna, tanah, udara, air, dan elemen lain di bumi musnah dan tentu permanen tak dapat kembali.

Kesadaran dan Keterlibatan

Kegagalan global ini terjadi karena polarisasi yang salah. Oleh sebab itu, kita perlu instropeksi diri. Misalnya, kita memang sadar telah terjadi krisis iklim, tetapi masih menganggapnya terpisah dari konflik dan kekerasan.

Padahal, ancaman ekologis dalam bentuk apa pun (termasuk krisis iklim) memiliki koneksi dengan konflik dan kekerasan. Untuk itu, kesadaran global harus diubah.

Bruno Latour dalam We Have Never Been Modern (1991) menggugat adanya sistem dikotomi absolut antara subjek dan objek. Dikotomi ini masuk ke dalam relasi antara manusia dan alam. Manusia adalah subjek, sementara alam adalah objek (antroposentrisme).

Paham seperti itu memengaruhi cara kita memandang alam. Dikotomi itu membuat kesadaran kita bias. Kita dibuat mempertahankan teori bahwa apa yang kita perbuat di alam adalah konsekuensi dari dikotomi tersebut.

Untuk itu, kita perlu eksodus dari kesadaran antroposentrisme kepada ekosipasi. Abdul Muamar—dalam tulisannya ”Ekosipasi: Gagasan Emansipasi Ekologi untuk Menyelamatkan Alam”—memberikan kepada kita pencerahan.

Dalam memperbaiki apa yang telah rusak akibat konflik dan perang, kita mesti mengakui bahwa bumi dan segala kekayaannya adalah entitas subjek setara manusia, bukan objek eksploitasi.

Bumi memiliki hak yang disebut dengan rights of nature (RON). Kesadaran untuk mengakui bumi dan RON tidak dimiliki oleh semua manusia. Tidak semua pula manusia mampu berdialog.

Setidaknya, keterlibatan minimalis adalah upaya mengurangi konsumsi dan produksi yang merusak (degrowth). Kesejahteraan manusia dan ekologi perlu diperluas. Tujuannya adalah memastikan keadilan antara bumi dan manusia terwujud.

Tekanan publik juga dapat menjadi sarana memaksa pemerintah untuk memprioritaskan ekosipasi lewat diplomasi damai dan solusi konflik. Tanpa berani memulai pada langkah pertama, kegagalan akan terus berulang.

Menebus Kegagalan

Gagal dalam menahan diri untuk tidak menyelamatkan bumi karena kerakusan yang terstruktur adalah dosa. Agustinus Hippo (354-430) dalam de Civitate Dei (426) menyebutkan bahwa kedisiplinan rohani dan pengendalian nafsu duniawi menjadi cara untuk menghindari dosa.

Hal ini penting juga diaplikasikan dalam usaha menghindari kegagalan menyelamatkan bumi. Nafsu duniawi—bukan melulu seksual—yang tak terkendali mengarahkan kita untuk menguasai sebanyak mungkin apa yang masih bisa kita peroleh dari bumi.

Nafsu duniawi dapat diolah dengan memperkuat kedisiplinan rohani. Kita harus membina rohani dengan semangat bahwa kita dan bumi adalah ciptaan yang diciptakan oleh Pencipta yang sama. Di samping itu, kita mesti menyadari bahwa kapasitas untuk menjaga, merawat, dan memelihara bumi hanya ada pada manusia.

Oleh karena itu, mari kita mengendalikan nafsu duniawi dengan berlatih berpuasa dan berpantang. Latihan ini tidak hanya dilakukan pada masa puasa. Latihan ini dapat dilakukan setiap saat.

Dalam konteks konflik di bumi, puasa dan pantang mampu membantu kita untuk menahan diri dari kekerasan dan eksploitasi. Pantang dari gaya hidup boros dan pola pikir militerisasi dapat menepis drama kehancuran.

Dengan menghayati puasa, kita berlatih untuk hidup dengan secukupnya. Tanpa kemampuan menahan nafsu, kita akan kembali jatuh pada dosa yang sama.

Kegagalan kita menyelamatkan bumi bukanlah nasib. Itu semua terjadi karena pilihan. Satu-satunya cara untuk memastikan usaha penyelamatan bumi adalah dengan mengakhiri konflik yang tidak masuk akal, mengendalikan nafsu, dan mengubah cara memandang bumi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
30 Ribu Jemaat Ikuti Ibadah Jumat Agung di Gereja Bethany Nginden Surabaya
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Driver Taksi Online Lecehkan Penumpang, Sisa Sabu Ditemukan di Mobil
• 4 jam laludetik.com
thumb
Dua Aduan THR Masuk, Satu Perusahaan Terancam Sanksi
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Profil Frans Putros, Bek Persib yang Bakal Berlaga di Piala Dunia
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Lebaran Betawi 2026 Akan Digelar Pekan Depan
• 51 menit lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.