JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom Senior INDEF Aviliani meminta pemerintah mempertimbangkan pandangan investor dan lembaga rating global.
Sebab, proyeksi penurunan rating menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap fiskal Indonesia belum sepenuhnya kuat.
"Mereka ini, banyak investor yang membeli obligasi pemerintah, artinya pemerintah tidak bisa hanya percaya diri bahwa kita sudah bagus-bagus saja, enggak akan mungkin di atas 3 persen. Tapi kan mereka punya hitungan sendiri. Oleh karena itu, mungkin di sini pemerintah perlu menyampaikan hal yang sebenarnya gitu,” kata Aviliani dalam program Rosi di Kompas TV, Kamis (2/4/2026).
“Karena kalau mereka persepsinya seperti itu, pasti mereka punya hitungan dong. Enggak mungkin mereka mengatakan menurunkan itu tanpa hitungan. Karena apa? Dampaknya itu akan buruk kalau itu terjadi pasti suku bunga akan naik lagi, yang tadinya kita harap turun naik lagi.”
Baca Juga: Jaleswari: Pemerintah Indonesia Menjerat Diri Gabung dalam BOP, Tidak Memikirkan Implikasinya
Aviliani karena itu mengingatkan pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan optimistis tanpa memperhatikan perhitungan pihak eksternal.
Sebab, jika kepercayaan menurun, dampaknya bisa berantai ke berbagai sektor ekonomi bahkan ada potensi keluarnya dana asing juga bisa menekan nilai tukar rupiah.
"Kalau mereka tidak percaya, mereka akan tarik dana asing. Artinya apa? Rupiah kita bisa melemah, dan tugas BI-nya juga berat,” katanya.
“Karena BI harus membeli obligasi pemerintah terus-menerus dan tidak hanya membantu pemerintah, itu akan menyulitkan dari sisi kalau nilai tukar kita lemah, otomatis 70 persen masih tergantung impor dong, otomatis harga jadi naik, kalau harga-harga naik ya masyarakat terkena dampaknya juga.”
Menurut Aviliani, Indonesia harusnya belajar dari Malaysia yang saat ini nilai tukar uangnya sangat kuat.
Penulis : Ninuk Cucu Suwanti Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- ekonom senior indef aviliani
- aviliani
- indef
- kondisi ekonomi indonesia
- ekonom senior aviliani





