FAJAR, ROMA – Kekecewaan mendalam akhirnya diluapkan legenda hidup Tim Nasional Italia, Francesco Totti. Ia melontarkan kritik tajam setelah Gli Azzurri hattrick gagal lolos ke Piala Dunia secara berturut-turut. Dia menyebut ini sebuah penghinaan besar.
Bagi Totti, kegagalan sebanyak tiga kali beruntun bukan sekadar hasil buruk di lapangan. Melainkan simbol hilangnya identitas dan harga diri dari negara yang pernah menjadi kekuatan besar dunia dengan empat gelar juara.
Dengan nada emosional, Totti mengenang masa ketika mengenakan seragam biru Italia bukan hanya tentang bermain, tetapi tentang pengorbanan, kebanggaan, dan tanggung jawab besar terhadap lambang negara.
Ia pun membandingkan generasi pemain saat ini dengan para pendahulunya yang dinilai memiliki mentalitas jauh lebih kuat.
“Tim tahun 2014 itu seperti bangsa Romawi dalam sejarah; disiplin, ditakuti, dan dihormati. Saat itulah Italia benar-benar menjadi Italia. Tidak ada gangguan, tidak ada obsesi dengan citra. Hanya sepak bola, kebanggaan, dan tanggung jawab terhadap lambang di dada,” tegasnya.
Menurut Totti, perubahan besar terjadi dalam pola pikir pemain modern. Ia menilai banyak pemain kini terlalu nyaman dan lebih fokus pada gaya hidup serta popularitas, dibandingkan dedikasi penuh terhadap sepak bola.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat karakter khas Italia—yang dikenal disiplin, tangguh, dan penuh determinasi—perlahan menghilang dari lapangan.
Puncak kritiknya tertuju pada fakta bahwa Italia kini benar-benar absen di tiga edisi Piala Dunia secara beruntun. Bagi Totti, ini bukan sekadar kegagalan biasa.
“Bagi negara seperti Italia, ini bukan hanya kegagalan, ini adalah penghinaan. Karena bakat saja tidak pernah cukup. Tanpa mentalitas, tanpa disiplin, tanpa kebanggaan, Anda tidak memiliki apa-apa,”
Pernyataan keras ini langsung menggema di Italia dan menjadi bahan refleksi besar bagi federasi, pelatih, hingga para pemain. Kritik Totti dianggap sebagai alarm serius bahwa sepak bola Italia sedang berada di titik terendahnya.
Kini, pertanyaan besar pun mengemuka: apakah Gli Azzurri mampu bangkit dan menemukan kembali jati dirinya, atau justru akan terus terjebak dalam krisis di era sepak bola modern? (*)





