Grid.ID - Dedi Mulyadi mendadak ngamuk saat sidak sekolah di Subang. Gubernur Jabar tegur keamanan sampai kepala sekolah karena kondisi fasilitas memprihatinkan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali melakukan inspeksi dadakan atau sidak. Kali ini, Gubernur Jabar yang akrab disapa KDM itu sidak ke salah satu SMA Negeri di Subang, Jawa Barat.
Terbaru, Dedi Mulyadi ngamuk saat sidak sekolah di Subang. Gubernur Jabar tegur keamanan sampai kepala sekolah karena kondisi fasilitas memprihatinkan.
Saat melakukan kunjungan, Dedi Mulyadi tampak marah dan sempat bersitegang dengan kepala sekolah terkait kebersihan lingkungan sekolah. Sebelum adu argumen dengan Kepsek, Dedi Mulyadi kecewa setelah melihat kondisi sekolah yang menurutnya jauh dari standar pendidikan yang layak.
Kemarahan KDM muncul ketika ia menemukan seorang petugas di pos jaga asyik bermain ponsel di jam kerja. Ia kemudian menyoroti tampilan dan kelayakan pos tersebut, yang dinilainya sangat tidak pantas berada di lingkungan pendidikan.
Mulai dari sajadah kotor, pakaian tergantung sembarangan di dinding, hingga furnitur tua yang berantakan, semuanya menjadi sorotan Dedi Mulyadi.
“Menurut bapak pantas gak ini pos?," tegur Dedi Mulyadi, dikutip dari kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi.
Meski mendapat kritik dan teguran, Dedi Mulyadi tetap memberikan uang tunai sebesar Rp500.000 kepada petugas untuk membeli cat berkualitas, meja baru, serta bantal agar ruangan menjadi lebih terang dan rapi.
Tidak berhenti di situ, kepala sekolah kemudian menghampiri untuk memberikan klarifikasi. Terjadi adu argumen karena Kepsek menanggapi dan menolak beberapa teguran Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat itu bahkan berseloroh agar Kepsek tidak membantahnya. Ia menekankan bahwa kepala sekolah seharusnya mengakui kesalahan dan menerima bahwa kondisi sekolah tersebut memang masih kotor dan kurang layak.
“Udah pak jangan dibantah pak. Jangan suka nyanggah, akui sebuah kesalahan, kalau kumuh ya kumuh,” ujar Dedi Mulyadi menegur.
Dedi menegaskan bahwa teguran yang disampaikannya bertujuan untuk memperbaiki kondisi sekolah. Ia juga menyoroti kepala sekolah karena kurangnya inisiatif dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Dedi menyindir Kepsek yang telah menjabat selama empat tahun namun membiarkan sekolah tetap kumuh dan berantakan. Bahkan, Dedi Mulyadi mengungkap bahwa selama ini dialah yang turun langsung membersihkan halte dan halaman depan sekolah karena pihak internal tidak melakukan tindakan.
"Sekolah itu harus jadi pelopor kebersihan. Pendidikan output-nya bukan hanya akademis, tapi orang-orang yang peka terhadap lingkungan," tegas Dedi Mulyadi saat membantah pembelaan diri sang Kepsek.
Sorotan Fasilitas Rusak dan Bantuan Rp5 Juta
Dedi Mulyadi juga menyoroti kondisi atap sekolah yang mengalami kebocoran. Ia menegur kebiasaan sekolah yang selalu menunggu dana APBD untuk perbaikan kecil seperti genteng rusak, padahal banyak petugas yang bisa melakukan perawatan rutin.
Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada usia bangunan, melainkan kurangnya kreativitas dan semangat gotong royong dalam merawat fasilitas. Meski sempat menegur dan menunjukkan kemarahan, Dedi Mulyadi memberikan bantuan sebesar Rp5.000.000 sebagai bentuk dukungan nyata untuk merapikan sekolah sekaligus memotivasi siswa agar lebih kreatif.
Ia juga mendorong para guru, termasuk guru Kimia dan Biologi, untuk mengajarkan materi yang aplikatif, seperti mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar atau daun menjadi pupuk organik. Di akhir kunjungannya, Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk selalu mendukung guru dan kepala sekolah yang berdedikasi dan kreatif dalam memajukan pendidikan di Jawa Barat. (*)
Artikel Asli




