Monas dan Sore yang Lapang: Cerita Warga Menikmati Jakarta Tanpa Tergesa

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Langit sore perlahan meredup di atas Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (3/4). Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyapu pelataran luas dengan warna keemasan yang hangat. Tak ada gelombang manusia yang biasanya memadati kawasan ini, meski hari itu menjadi awal libur panjang.

Namun, seperti denyut kota yang tak pernah benar-benar berhenti, Monas tetap hidup. Di bawah bayang tugu setinggi 132 meter itu, warga datang dengan langkah santai. Sebagian mengangkat ponsel, membekukan momen di tengah cahaya senja. Sebagian lain hanya berdiri, memandangi langit yang berubah warna, menikmati jeda yang jarang ditemukan di hari-hari biasa.

Di hamparan luas pelataran, anak-anak berlari tanpa batas. Tawa mereka memantul di antara langkah-langkah ringan para orang tua yang duduk santai, mengawasi dari kejauhan. Di sisi lain, beberapa keluarga menggelar alas, membuka bekal dari rumah, dan membiarkan waktu berjalan lebih pelan di antara suapan makanan dan obrolan ringan.

Tak jauh dari kerumunan, sebuah kereta wisata sesekali melintas, membawa pengunjung menuju bagian dalam tugu. Suara dari pengeras terdengar jelas, "Kami informasikan kereta wisata ini bukan untuk berkeliling, hanya mengantarkan pengunjung yang ingin masuk ke dalam Tugu Monas."

Di sudut lain, Ian (29), seorang karyawan swasta, memilih menikmati Monas dengan caranya sendiri. Ransel tergantung di pundaknya, handphone di tangan, ia berjalan perlahan, mencari sudut-sudut yang tak biasa.

"Pertama lagi libur, kedua juga tadi kan mau jalan-jalan aja ke Jakarta karena kemarin Lebaran kan Jakarta sepi cuma kita belum sempat gitu," ujarnya.

Ia datang seorang diri, menyusuri Jakarta dengan transportasi umum, dari Istiqlal hingga Monas. Bagi Ian, perjalanan ini bukan sekadar rekreasi, melainkan cara untuk merasakan kota dari sisi yang lebih sunyi.

"Ya aku sih sebenarnya mau ya buat jalan-jalan aja ya sambil foto-foto sepi-sepinya Jakarta aja," katanya.

Berbeda dengan Ian, suasana Monas menjadi ruang nostalgia bagi Julian Effendy (56), warga asal Bengkulu. Dengan pakaian necis, ia tampak berfoto bersama rekan-rekannya.

"Saya sebenarnya tahun 82 pernah naik ke sana masih kecil," kenangnya seraya tersenyum.

Kunjungan kali ini terasa berbeda. Setelah puluhan tahun, ia kembali menjejakkan kaki di tempat yang sama, menyaksikan perubahan yang menurutnya semakin baik.

"Sangat bagus dan tempatnya kayaknya lebih asri," ujarnya.

Lebih dari itu, ada kebanggaan tersendiri yang ia rasakan sebagai orang Bengkulu, tanah yang turut menyumbang emas untuk puncak Monas.

"Artinya Bengkulu itu ada sumbangsihnya ke tingkat nasional. Dan saya tadi cerita sama ini, saya bangga loh punya presiden zaman itu Soekarno yang dikenal semua orang di berbagai mancanegara dan beliau punya ide harus punya ikon," ujarnya.

Ian bukan sengaja berlibur ke Monas. Kehadirannya bersama kerabat karena ada pekerjaan dari salah satu pejabat untuk mendekorasi acara pernikahan.

"Ini kru kita, kebetulan kita ada lagi ada tugas dipercaya Ibu Duta Besar Portugal untuk nggarap dekorasi pernikahan anaknya. Kita bawa dekorasi adat dari Bengkulu," kata dia.

Hari itu, Monas bukan sekadar destinasi wisata. Ia menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara keramaian yang ditunggu dan kesunyian yang dinikmati.

Di tengah kota yang biasanya bergerak cepat, libur panjang justru memberi kesempatan bagi warganya untuk kembali mengenal Jakarta dengan cara yang lebih sederhana.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rangkaian Ibadah Paskah 2026 di Katedral Jakarta, Jemaat Bisa Ikut Hybrid dan Offline
• 10 jam lalukompas.com
thumb
KPK Maraton Periksa Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji Mulai Pekan Depan
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi: Sindikat TPPO Bayi di Deli Serdang Satu Kerabat
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Penjualan Properti Balikpapan Lesu, Proyek IKN Belum Mampu jadi Magnet Pasar
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Gunung Dukono Erupsi, Kolom Abu Capai 4.000 Meter
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.