KETEGANGAN geopolitik di Selat Hormuz pada April 2026 telah mendorong harga minyak dunia ke level yang mencemaskan. Di dalam negeri, guncangan ini direspons melalui berbagai kebijakan instruktif yang menyita perhatian publik.
Salah satu yang paling menonjol adalah instruksi Gubernur Jawa Tengah agar aparatur sipil negara (ASN) bersepeda atau bahkan berlari ke kantor.
Kita pun menyaksikan kontras yang ganjil: krisis energi global di satu sisi, dan barisan aparatur yang terengah-engah di jalanan di sisi lain.
Namun, pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah keringat ASN tersebut merupakan instrumen efisiensi yang terukur, atau sekadar teatrikal politik untuk menunjukkan sense of crisis yang bersifat permukaan?
Kebijakan semacam ini seharusnya tidak berhenti pada simbolisme fisik yang kontroversial.
Paradigma efisiensi perlu digeser, dari pendekatan manual menuju efisiensi sistemis berbasis Green Talent.
Berisiko Menggerus MotivasiManajemen talenta di era disrupsi menuntut respons yang cerdas dan berkelanjutan. Efisiensi energi dalam birokrasi semestinya menjadi bagian dari transformasi budaya kerja, bukan beban tambahan bagi individu.
Baca juga: WFH Burung, Kucing, dan Sapi
Dalam perspektif Michael Armstrong (2021), kinerja merupakan fungsi dari kemampuan dan motivasi.
Instruksi “berlari ke kantor” justru berisiko menggerus motivasi sebelum ASN menyentuh meja pelayanan.
Stamina yang terkuras di perjalanan dapat berdampak pada kualitas pengambilan keputusan. Alih-alih meningkatkan produktivitas, beban fisik yang dipaksakan berpotensi menciptakan kelelahan kolektif yang kontraproduktif.
Perbedaan respons antardaerah—di mana Solo menyatakan siap sementara Cilacap bersikap skeptis—menunjukkan bahwa manajemen talenta tidak dapat diseragamkan dengan pendekatan one size fits all.
Di Jawa Tengah, persoalan utama produktivitas bukan semata kemacetan, melainkan jarak tempuh antarwilayah yang panjang.
Bagi ASN di wilayah pinggiran atau kaki gunung, perjalanan puluhan kilometer setiap hari merupakan beban fisik yang nyata, meski sering tak terlihat dampaknya terhadap kualitas pelayanan.
Dalam konteks geografis demikian, memaksakan aktivitas fisik tambahan justru berisiko menguras energi kognitif.
Efisiensi sejati dalam birokrasi modern lahir dari pengurangan mobilitas fisik melalui sistem digital yang tangkas.





