Industri Pariwisata Dubai Terguncang Imbas Perang AS-Israel dan Iran

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Salah satu destinasi pariwisata tersohor nan mewah berskala internasional di jazirah Arab, Dubai, mengalami guncangan yang signifikan akibat eskalasi perang AS-Israel dan Iran yang melebar ke berbagai wilayah Timur Tengah.

Dikutip dari BBC, Jumat (3/4), Dubai mencatat 19,59 juta pengunjung internasional pada tahun lalu, menjadikannya salah satu kota yang paling banyak dikunjungi di dunia. Namun, perang AS-Israel dengan Iran telah berdampak buruk pada jumlah pengunjung hingga menyulitkan keberlanjutan bisnis lokal.

Founder dan CEO Tashas Group, Natasha Sideris, mengatakan perubahan di sektor pariwisata Dubai terjadi secara tiba-tiba dan drastis.

Sebagian besar restoran-restoran di Dubai biasanya penuh sesak pada malam hari. Namun selama sebulan terakhir, banyak meja tersebut tampak kosong.

Sideris membuka restoran pertamanya di Dubai pada tahun 2014. Selama dekade terakhir, grup perhotelan miliknya telah berkembang menjadi 14 gerai di seluruh negeri, mempekerjakan lebih dari 1.000 orang.

Hanya saja, perang AS-Israel dengan Iran kini memberikan dampak buruk yang besar pada bisnisnya. Sideris mengatakan, banyak restorannya, yang populer di kalangan penduduk lokal maupun ekspatriat, mengalami penurunan pendapatan lebih dari 50 persen.

Namun, gerai yang sangat bergantung pada wisatawan terpukul jauh lebih parah, dengan penurunan 70 hingga 80 persen. Krisis ini memaksanya untuk memotong gaji sebesar 30 persen untuk semua staf, termasuk dirinya sendiri.

"Situasi saat ini sangat brutal. Saya punya pilihan, memecat 30 persen staf saya atau memotong gaji untuk menyelamatkan pekerjaan. Untuk saat ini, saya memilih yang terakhir," katanya.

Sideris menambahkan, dampaknya akan lebih buruk jika banyak gerainya tidak berlokasi di dalam pusat perbelanjaan komunitas dan dekat dengan lingkungan perumahan, di mana mereka masih bergantung pada pelanggan lokal.

Realitas sulit ini juga terjadi di sebagian besar sektor restoran di Dubai. Seorang eksekutif senior di sebuah jaringan restoran, yang meminta namanya dirahasiakan, mengatakan jumlah pengunjung di gerainya telah turun menjadi hanya 15-20 persen dari biasanya, memaksa mereka untuk menempatkan lebih dari setengah staf dalam cuti tanpa gaji.

"Kami tidak punya pilihan. Kami sudah menutup beberapa gerai untuk sementara waktu, dan sisanya beroperasi dengan staf minimal," ungkapnya.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada restoran. Seluruh ekosistem pariwisata mulai dari hotel dan agen perjalanan, hingga perusahaan transportasi dan maskapai penerbangan merasakan tekanannya.

Wilayah Uni Emirat Arab (UEA) secara umum berulang kali menjadi sasaran serangan, dengan Dubai termasuk di antara target utama respons militer Iran setelah serangan AS dan Israel.

Pihak berwenang mengatakan lebih dari 2.400 rudal dan drone telah diluncurkan ke arah UEA, menargetkan bandara, pelabuhan, dan area sipil, termasuk hotel dan bangunan tempat tinggal.

Menurut para pejabat, lebih dari 90 persen di antaranya berhasil dicegat dan dihancurkan. Namun, beberapa puing berjatuhan di berbagai bagian Dubai, termasuk area perumahan utama, hotel, dan bandara, termasuk hotel Fairmont di Palm Island yang mewah. Hingga saat ini, 11 orang tewas dan lebih dari 185 orang terluka di seluruh UEA, menurut pihak berwenang di negara tersebut.

Konflik yang dimulai pada 28 Februari ini telah mengganggu perjalanan udara di seluruh wilayah tersebut. Pada minggu-minggu awal, puluhan ribu pengunjung terdampar sebelum dievakuasi dengan penerbangan khusus.

Ribuan penerbangan reguler dan terjadwal telah dibatalkan sejak konflik dimulai, menyebabkan salah satu pusat perjalanan tersibuk di kawasan ini terhenti di beberapa waktu. Bandara Internasional Dubai, bandara tersibuk di dunia untuk penumpang internasional, menangani 95,2 juta penumpang tahun lalu.

Sebagian operasional telah dilanjutkan, dengan maskapai penerbangan nasional Emirates mengoperasikan jadwal penerbangan yang dikurangi sambil berupaya memulihkan operasional jaringan penuh.

Namun, dengan berkurangnya wisatawan dan anjloknya jumlah pendatang baru, tingkat hunian hotel di Dubai telah turun tajam menjadi antara 15 dan 20 persen dari tingkat normal untuk waktu ini setiap tahunnya, dalam beberapa minggu setelah pecahnya perang, menurut kepala bagian bisnis perusahaan pemesanan perjalanan Wego, Mamoun Hmiden.

Hotel-hotel merespons dengan memberikan diskon besar-besaran, terutama selama periode Idul Fitri, dalam upaya menarik perhatian warga. Beberapa properti mewah di Palm Jumeirah, salah satu pusat hotel premium di kota ini, telah memangkas harga hingga setengahnya.

"Ketidakpastian ini mengganggu semua orang saat ini," kata Hmiden.

Beberapa jaringan perhotelan telah menutup sementara beberapa properti atau bagian tertentu, dengan alasan renovasi yang telah dijadwalkan, yang biasanya dilakukan selama bulan-bulan musim panas yang lebih sepi.

Seorang eksekutif senior di sebuah grup perhotelan internasional mengatakan tingkat hunian di beberapa properti telah turun hingga di bawah 10 persen. "Masuk akal untuk memangkas biaya operasional dengan menutup sementara selama beberapa minggu dan meninjau situasinya kemudian," katanya.

Bahkan, hotel bisnis pun berada di bawah tekanan. Dubai, pusat utama konferensi dan acara, menyaksikan penyelenggara membatalkan atau menunda pertemuan besar dalam beberapa bulan mendatang. Majestic Hotels, yang mengoperasikan sekitar 450 kamar di tiga properti, mengatakan tingkat hunian telah turun ke titik terendah sepanjang sejarah.

"Kami melihat pembatalan hingga setelah bulan April. Banyak acara telah dibatalkan, sehingga menyulitkan para pelancong untuk merencanakan perjalanan mereka ke depan," kata direktur penjualan dan pemasaran klaster, Varun Raj.

Pekerja Migran Tertekan

Kemerosotan ini juga dirasakan oleh tenaga kerja migran yang menjadi tulang punggung industri perhotelan Dubai, mulai dari staf restoran hingga pekerja hotel.

Seiring melemahnya permintaan, banyak pekerja mengalami pengurangan jam kerja, atau diberhentikan sementara tanpa dibayar.

Meskipun sistem ketenagakerjaan UEA memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kondisi, fleksibilitas tersebut dapat membuat pekerja rentan terhadap kehilangan pendapatan secara tiba-tiba.

"Rasanya seperti kita kembali ke masa Covid-19. Ada kekhawatiran kita bisa kehilangan pekerjaan lagi dan terpaksa pulang ke rumah," kata seorang pelayan keturunan Asia Selatan yang bekerja di restoran kelas atas.

Dia dan beberapa rekannya telah diberhentikan sementara tanpa dibayar, tanpa kejelasan kapan atau apakah mereka akan kembali bekerja.

Beberapa hotel, termasuk properti bintang lima, mulai melakukan PHK terhadap karyawan. Kelompok hak asasi manusia mengatakan banyak pekerja migran di UEA sudah rentan secara finansial, dengan beberapa di antaranya memiliki utang yang terkait dengan biaya perekrutan.

Dampak perang juga dirasakan di seluruh Timur Tengah. Penelitian oleh Tourism Economics, bagian dari Oxford Economics, menunjukkan bahwa antara 23 juta hingga 38 juta orang mungkin akan lebih sedikit mengunjungi wilayah tersebut tahun ini, tergantung pada berapa lama konflik berlanjut.

Kerugian pengeluaran wisatawan bisa mencapai antara USD 34 miliar dan USD 56 miliar.

Pada pekan ini, Dubai mengumumkan dukungan sebesar USD 272,26 juta untuk bisnis, termasuk pariwisata, selama tiga hingga enam bulan ke depan. Hotel akan diizinkan untuk menunda biaya terkait penjualan dan biaya dirham pariwisata, biaya yang dikenakan kepada tamu yang menginap di kota tersebut.

Pihak berwenang di Dubai juga sedang menyusun rencana untuk menghidupkan kembali pariwisata setelah konflik mereda, termasuk kampanye baru dan penawaran promosi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Peluru Nyasar Siswa SMP di Gresik, TNI AL Sebut Asal Peluru Belum Bisa Dipastikan
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Video: Prabowo Siapkan B50 Hadapi Krisis Energi, Petani Sawit Siap!
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Perlukah TNI Ditarik dari Misi Perdamaian di Lebanon?
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Motif Penyiraman Air Keras di Bekasi, Pelaku Sakit Hati dan Dendam
• 4 menit lalurctiplus.com
thumb
Ropan Bongkar Arah PSSI: Timnas Indonesia Bisa Uji Nyali Lawan Timur Tengah
• 2 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.