Mukomuko dan Ancaman Bencana yang Tak Terlihat

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kabupaten Mukomuko di Provinsi Bengkulu dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Hutan yang luas, sungai-sungai yang mengalir menuju laut, dan kawasan pesisir yang panjang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Banyak warga menggantungkan hidup dari sektor perkebunan, pertanian, dan perikanan. Namun di balik potensi tersebut, Mukomuko juga menyimpan ancaman bencana yang sering kali tidak disadari sejak awal.

Bencana seperti banjir, kebakaran hutan, hingga abrasi pantai bukanlah hal yang asing bagi sebagian masyarakat di wilayah ini. Ketika musim hujan tiba, beberapa daerah yang berada di sekitar aliran sungai kerap mengalami genangan air. Sementara itu, saat musim kemarau berkepanjangan, ancaman kebakaran lahan juga meningkat, terutama di wilayah yang memiliki banyak lahan perkebunan dan semak belukar.

Bagi masyarakat setempat, bencana tersebut sering dianggap sebagai kejadian alam yang datang secara tiba-tiba. Padahal, banyak ahli lingkungan menyebut bahwa bencana sering kali merupakan hasil dari perubahan kondisi alam yang terjadi secara perlahan. Perubahan tata guna lahan, pembukaan hutan, dan pembangunan di daerah yang seharusnya menjadi kawasan resapan air dapat memperbesar risiko bencana.

Di beberapa wilayah Mukomuko, pembukaan lahan untuk perkebunan telah mengubah bentang alam yang sebelumnya didominasi oleh hutan. Hutan memiliki peran penting sebagai penyangga lingkungan karena mampu menyerap air hujan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Ketika luas hutan berkurang, kemampuan tanah untuk menahan air juga ikut berkurang. Akibatnya, saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air lebih cepat mengalir ke sungai dan dapat menyebabkan banjir di daerah hilir.

Rahman (45)—seorang petani yang tinggal di Kecamatan Kota Mukomuko—mengatakan bahwa banjir semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengaku lahan pertaniannya beberapa kali terendam ketika hujan turun cukup lama.

Selain banjir, kawasan pesisir Mukomuko juga menghadapi ancaman abrasi. Gelombang laut yang terus menerus menghantam pantai perlahan dapat mengikis daratan. Dalam jangka panjang, abrasi tidak hanya merusak lingkungan pesisir, tetapi juga berpotensi mengancam permukiman warga yang berada dekat dengan garis pantai.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Suryadi (38), seorang nelayan yang tinggal di kawasan pesisir Mukomuko. Menurutnya, kondisi pantai di beberapa titik mulai mengalami perubahan.

Ancaman-ancaman tersebut sering kali tidak terlihat secara langsung karena prosesnya terjadi secara perlahan. Ketika banjir atau kerusakan pantai akhirnya terjadi, masyarakat baru menyadari dampaknya setelah kerugian muncul. Inilah yang membuat isu lingkungan sering dianggap sebagai masalah yang jauh, padahal sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi seperti ini, peran jurnalisme lingkungan menjadi sangat penting. Jurnalisme lingkungan tidak hanya melaporkan bencana setelah terjadi, tetapi juga membantu masyarakat memahami hubungan antara aktivitas manusia, perubahan lingkungan, dan risiko bencana. Melalui pemberitaan yang mendalam, media dapat mengangkat berbagai persoalan yang selama ini jarang diperhatikan.

Di daerah seperti Mukomuko, jurnalisme lingkungan juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan suara masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Cerita dari petani yang lahannya sering tergenang air atau nelayan yang menghadapi perubahan kondisi laut dapat memberikan gambaran nyata mengenai dampak kerusakan lingkungan.

Mukomuko pada dasarnya memiliki potensi alam yang besar untuk mendukung kehidupan masyarakatnya. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Jika tidak, ancaman bencana yang selama ini tidak terlihat dapat muncul kapan saja dan membawa dampak yang lebih besar.

Melalui perhatian yang lebih serius terhadap lingkungan—serta dukungan dari jurnalisme yang kritis dan informatif—diharapkan masyarakat semakin sadar bahwa menjaga alam tidak hanya tentang melindungi lingkungan, tetapi juga tentang melindungi kehidupan mereka sendiri di masa yang akan datang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pendaftaran SIPENCATAR 2026 Jalur Mandiri PPI Madiun Dibuka, Ini Syarat dan Dokumennya
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Daftar Harga HP Tecno Terbaru April 2026: Seri Pova, Camon, hingga Spark
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Menag: WFH Jumat Tidak Boleh Ganggu Layanan Publik Kemenag
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Ajax Menjamu Twente dan Bersaing Ketat untuk Merebut Tiket Liga Champions, Maarten Paes dkk. Diminta Lebih Waspada
• 5 jam lalubola.com
thumb
BGN Beri Peringatan 2.100 SPPG: 1.789 Lainnya Dihentikan Sementara Operasionalnya untuk Program MBG
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.