Perayaan Kamis Putih oleh umat Katolik di Keuskupan Surabaya, Jawa Timur, dimaknai dengan menggemakan pesan pelayanan dan kerendahan hati. Pesan ini antara lain mengajak umat untuk mengubah cara pandang umum bahwa pejabat atau atasan harus dilayani, bukan melayani.
Kamis Putih mengawali rangkaian Tri Hari Suci. Inilah hari perayaan mengenang Yesus dan 12 rasul dalam Perjamuan Malam Terakhir. Dari peristiwa ini, Yesus mewarisi ajaran-ajaran utama, antara lain, cinta kasih dengan pelayanan dan rendah hati.
Ajaran mengenai pelayanan dan rendah hati amat terasa sebagai pesan dalam misa Kamis Putih. Salah satunya di Gereja Katolik Sakramen Mahakudus, Surabaya, Kamis (2/4/2026).
Misa kedua yang dimulai pukul 21.00 WIB dipimpin oleh Pastor Rekan Paroki Sakramen Mahakudus, yakni RD Ferdinandus Eltyson Prayudi dan RD FX Hardi Aswinarno. Dalam misa itu, diadakan upacara pembasuhan kaki, liturgi ekaristi, dan perarakan Sakramen Mahakudus ke Balai Paroki.
Seusai misa sekitar pukul 22.30 WIB sampai tengah malam, Sakramen Mahakudus ditakhtakan di Balai Paroki. Umat diajak untuk tuguran, ibadah berdoa, dan berjaga bersama Sakramen Mahakudus.
Tradisi tuguran terinspirasi dari peristiwa Yesus berdoa di Taman Gethsemane, tetapi ditinggal tidur oleh tiga murid yang diajak seusai perjamuan. Di sana, Yesus ditangkap dan diadili untuk kemudian disesah, disalibkan, tetapi bangkit dari kematian yang dirayakan sebagai Paskah.
RD Ferdinandus Eltyson Prayudi mengatakan, pembasuhan kaki mencerminkan pelayanan Tuhan kepada manusia yang hamba. Dalam logika umum, posisi lebih tinggi dilayani oleh yang rendah. Hamba melayani tuan.
Bagi para rasul, Yesus tentu diposisikan tinggi. Menjadi lumrah jika yang membasuh kaki adalah murid kepada Sang Guru. Dalam Injil Yohanes 13:1-15, Petrus sempat menolak ketika Yesus hendak membasuh kakinya.
”Logika Petrus adalah logika kita, yang lebih tinggi harus dilayani. Padahal, Tuhan mengajarkan sebaliknya mengenai penyerahan total, pelayanan, dan rendah hati,” kata Prayudi.
Dalam konteks kehidupan saat ini, kebanyakan logika Petrus yang terjadi. Atasan dilayani bawahan. Pejabat dilayani karena berkarakter enggan melayani. Demikian pula terjadi dalam otoritas agama, pemuka dilayani umat.
”Jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Ku-perbuat kepadamu,” kata Yesus dalam Injil menurut Yohanes yang dibacakan Prayudi itu.
Setelah pembasuhan kaki, Injil menyebutkan perjamuan. Di sinilah Yesus menyatakan memberikan tubuh dan darah untuk umat manusia. ”Inilah penyerahan dan pelayanan secara total dari Tuhan untuk umat-Nya. Bagaimana sepatutnya kita memaknai peristiwa ini? Ya dengan pelayanan dan penyerahan yang rendah hati, tidak membeda-membedakan,” tutur Prayudi.
Logika Petrus adalah logika kita, yang lebih tinggi harus dilayani. Padahal, Tuhan mengajarkan sebaliknya mengenai penyerahan total, pelayanan, dan rendah hati
Seusai liturgi ekaristi, diadakan perarakan Sakramen Mahakudus menuju Balai Paroki. Setelahnya, umat diajak untuk tuguran. Dalam kisah di Taman Gethsemane, Yesus meminta ketiga murid yang diajak untuk berjaga-jaga karena Ia ingin berdoa. Namun, ketiga murid itu malah tertidur.
Tertidur menandakan kelemahan kita untuk sekadar memenuhi permintaan kecil dari Tuhan. Jika permintaan kecil saja sulit kita penuhi, bagaimana dapat melayani dan rela menyerahkan dengan rendah hati.





