Islamabad: Pakistan menyatakan bahwa tanggung jawab untuk mengakhiri konflik dengan Afghanistan berada di pihak Kabul, di tengah perundingan awal antara kedua negara yang bertujuan meredakan permusuhan.
Kedua negara bertetangga yang sebelumnya pernah menjadi sekutu itu kini terlibat dalam konflik yang semakin meningkat. Islamabad menuduh Kabul melindungi kelompok ekstremis yang bertanggung jawab atas serangan lintas perbatasan.
Baca Juga :
Pakistan Kembali Buka Perbatasan untuk Pemulangan Warga Afghanistan yang Tertahan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Hussain Andrabi mengatakan kepada wartawan di ibu kota bahwa pemerintah berharap tercapai “solusi yang berkelanjutan”.
"Partisipasi kami dalam perundingan merupakan penegasan kembali atas kekhawatiran utama kami," ujar Andrabi, dikutip dari Channel News Asia, Kamis, 2 April 2026.
"Namun, beban dari proses yang sebenarnya berada pada Afghanistan, yang harus menunjukkan tindakan nyata dan dapat diverifikasi terhadap kelompok teroris yang menggunakan wilayahnya untuk menyerang Pakistan," lanjut Andrabi.
Ia menggambarkan perundingan tersebut sebagai pembicaraan tingkat teknis dan menyebut prosesnya masih berlangsung.
"Delegasi kami belum kembali," tambah Andrabi.
Pakistan, yang memiliki hubungan lama dengan Iran serta kontak pribadi dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, dalam beberapa pekan terakhir juga aktif melakukan diplomasi untuk mempertemukan Washington dan Teheran ke meja perundingan guna mengakhiri perang di Timur Tengah.
Tiongkok mendukung upaya Pakistan tersebut dan menyelaraskan posisinya dengan negara-negara Teluk yang terdampak oleh meluasnya konflik di kawasan.
Beijing juga terlibat dalam upaya mengakhiri konflik antara Pakistan dan Afghanistan, termasuk dengan mengirim utusan khusus ke Kabul untuk mencoba menengahi kesepakatan.
Pakistan dan Afghanistan sebelumnya mengumumkan penghentian sementara pertempuran untuk menandai berakhirnya Ramadan bulan lalu, atas permintaan Arab Saudi, Qatar, dan Turki.
Namun, setelah gencatan senjata sementara berakhir, serangan sporadis masih dilaporkan terjadi di wilayah perbatasan terpencil. Pemerintah Taliban membantah memberikan perlindungan kepada kelompok ekstremis.
Arab Saudi dan Qatar sebelumnya juga telah berupaya meredakan ketegangan sejak konflik meningkat pada Februari, sementara perundingan di Istanbul pada November tahun lalu juga tidak membuahkan hasil.




