Di tengah melonjaknya ketidakpastian pasar energi, sebanyak 40 negara berkoalisi untuk solusi membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini diblokade oleh Iran. Tidak ada pelibatan Amerika Serikat (AS) dalam koalisi ini.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper memimpin pertemuan virtual yang diadakan pada Kamis (2/4) waktu setempat. Pertemuan melibatkan kekuatan ekonomi besar seperti Perancis, Jerman, Kanada, Uni Emirat Arab, India, hingga Jepang.
Seluruh negara koalisi menandatangani pernyataan bersama meminta Iran untuk menghentikan blokade Selat Hormuz. Mereka juga meminta Iran untuk membantu memastikan perlintasan yang aman melewati jalur perdagangan vital tersebut.
Yvette mengatakan blokade Iran telah berdampak ke ekonomi global, termasuk negaranya. Tidak hanya terkait minyak, penutupan jalur turut berdampak ke kenaikan harga-harga barang pokok.
“Dampaknya terasa pada harga bensin dan suku bunga kredit properti di Inggris, bahan bakar jet di seluruh dunia, pasokan pupuk ke Afrika, hingga distribusi gas ke Asia,” kata Cooper dalam pembukaan pertemuan, dikutip dari Reuters.
Para negara koalisi juga khawatir terjadinya krisis pangan global jika distribusi pupuk terus terhambat. Sejumlah negara mendorong pembentukan koridor kemanusiaan untuk memastikan pasokan penting tetap berjalan.
Secara umum, koalisi berfokus pada mobilisasi instrumen diplomatik dan ekonomi sebagai langkah awal. Poin penting dalam usaha ini adalah tekanan diplomatik dan sanksi untuk Iran, pengamanan jalur komersial, serta memastikan pasokan barang pokok tetap berjalan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan opsi terbaik untuk membuka Selat Hormuz adalah berbicara langsung dengan Iran. Menurutnya, opsi serangan militer tidak realistis mengingat pasukan Iran memiliki kemampuan serangan balik signifikan.
Keputusan 40 negara ini untuk bergerak mandiri merupakan respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump. Dia mendesak negara-negara sekutu untuk "mengumpulkan keberanian" dan menjaga jalur pelayaran mereka sendiri. Trump juga mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bukan lagi tanggung jawab AS.
Sikap ini menuai kritik yang menilai Washington meninggalkan situasi konflik yang ikut dipicunya. Saat ini, keberhasilan koalisi sangat bergantung pada efektivitas negosiasi dengan Iran, yang dilaporkan mulai memberlakukan tarif dan pembatasan ketat bagi kapal-kapal yang melintas.




