JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang remaja perempuan, NAP (15), sempat lumpuh akibat menderita trauma bertahun-tahun setelah dilecehkan pamannya sendiri.
Ibu korban, Caca mengatakan, mulanya NAP hanya berubah jadi lebih pendiam sejak 2020. Namun, NAP tak mengingat jelas sejak kapan pencabulan itu terjadi.
Selama dua tahun, NAP menyimpan keresahannya karena takut tak dipercaya oleh orang dewasa.
Baca juga: Bocah di Bekasi Trauma Dicabuli Pamannya, Sering Murung dan Tak Mau Keluar Rumah
Sampai akhirnya emosi yang dipendam NAP membuat dia sering merasa sakit kepala di sekolah, lalu perlahan lumpuh.
Saat itu, dengan biaya seadanya, Caca membawa NAP ke rumah sakit. Tapi tak ada diagnosis penyakit yang spesifik dari dokter.
“Akhirnya berobat jalan kalau pas ada uang. Baru 2023 keuangan sudah mendingan baru bawa berobat lagi,” jelas Caca kepada Kompas.com, Jumat (3/4/2026).
Saat itu, NAP selalu menolak jika harus dititipkan ke rumah neneknya yang tak jauh dari rumah pelaku, MH (43).
“Di situ dia belum cerita. Tapi dia sama adiknya selalu nolak kalau mau aku titip ke mertua. Katanya mau di rumah aja,” tutur Caca.
Keadaan makin parah pada 2024. Tiba-tiba, NAP jatuh pingsan di pinggir jalan. Malamnya, NAP pun menumpahkan ceritanya pada Caca. Dia bilang telah dicabuli oleh MH.
Keesokan harinya, suami Caca kemudian mengonfrontasi MH di hadapan keluarga besar.
Baca juga: Remaja di Petogogan Dicabuli Pamannya, Keluarga Korban Lapor Komnas PA DKI
“Dia ngaku waktu kumpul keluarga besar. Padahal waktu itu harapannya itu enggak benar, tapi dia ngaku. Tapi waktu itu enggak didokumentasiin,” kata Caca.
Pendidikan NAP juga terhenti di bangku kelas 4 SD karena tak bisa masuk sekolah. Bahkan NAP sempat terancam tak naik ke kelas 4 saat itu karena penurunan prestasi.
“Jadi dari sekolah sebenarnya sudah curiga dari awal. Karena katanya konsentrasinya kurang, menarik diri juga,” jelas Caca.
Padahal, NAP dikenal sebagai anak yang aktif. Dia sempat tergabung dalam kelompok tari.