Jakarta: Delegasi Uni Eropa dan misi diplomatik negara-negara anggota Uni Eropa di Indonesia menyampaikan belasungkawa dan simpati terdalam kepada keluarga para pasukan TNI anggota penjaga perdamaian yang gugur bertugas di Lebanon.
Ucapan disampaikan kepada Republik Indonesia, dan kepada semua pihak yang terdampak oleh kehilangan tragis ini.
Baca Juga :
Proses Pemulangan Jenazah Tiga Personel TNI dari Lebanon sudah Dilakukan“Kami menggemakan pernyataan Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB yang mengutuk insiden baru-baru ini yang mengakibatkan kematian tiga penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL),” pernyataan pihak Uni Eropa dalam keterangan yang diterima Metrotvnews.com, Jumat 3 April 2026.
“Delegasi Uni Eropa dan misi diplomatik negara-negara anggota Uni Eropa mengingatkan bahwa berdasarkan hukum internasional, keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB harus dijamin setiap saat,” imbuh pernyataan itu. Pemulang Proses repatriasi atau pemulangan jenazah tiga personel penjaga perdamaian Indonesia yang gugur di Lebanon sudah dilakukan.
Pada 2 April 2026, telah dilaksanakan upacara pelepasan dan penghormatan jenazah ketiga personel penjaga perdamaian Indonesia tersebut di Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut, Lebanon.
“Upacara dipimpin langsung oleh Force Commander UNIFIL sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdian mereka dalam menjaga perdamaian dunia,” sebut keterangan dari Perwakilan Tetap RI untuk PBB.
Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Indonesia dalam serangan di Lebanon pada 29 dan 30 Maret 2026. Kepergian mereka meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Pemerintah Indonesia terus berkoordinasi erat dengan PBB untuk memastikan proses repatriasi dapat berlangsung secara cepat, aman, dan lancar. Pemulangan jenazah diharapkan dapat dilakukan dalam pekan pertama April 2026.
“Proses repatriasi dalam situasi konflik memiliki tantangan tersendiri. Dalam kondisi normal, perjalanan dari Beirut ke Jakarta memerlukan waktu setidaknya 17 jam,” imbuh keterangan itu.
Saat ini, intensitas kontak senjata di berbagai titik kawasan, termasuk akibat meningkatnya serangan Israel di Lebanon Selatan, tidak hanya menimbulkan keterbatasan pergerakan, tetapi juga menjadikan setiap langkah sebagai pertaruhan keselamatan.




