Penulis: Fityan
TVRINews – Houston
Dari jendela kapsul Orion, para penjelajah Artemis II terdiam menyaksikan keajaiban planet asal dari kejauhan.
Era baru penjelajahan ruang angkasa mencapai titik krusial pada Kamis 2 April 2026 waktu setempat.
Empat astronaut dalam misi Artemis II resmi meninggalkan orbit Bumi, memulai perjalanan tiga hari menuju Bulan setelah mesin pesawat ruang angkasa Orion berhasil melakukan pembakaran (engine burn) secara presisi.
Momentum ini menandai pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad manusia kembali diarahkan ke orbit Bulan sejak berakhirnya era Apollo pada tahun 1972.
Mesin kapsul Orion menyala selama enam menit, menghasilkan daya dorong yang cukup kuat untuk meluncurkan kendaraan tersebut menuju lintasan luar Bumi.
Akselerasi ini setara dengan memacu mobil diam hingga kecepatan jalan raya dalam waktu kurang dari tiga detik.
"Hasil pembakaran terlihat baik, kami mengonfirmasinya," lapor pusat kendali misi di Houston, yang segera disambut dengan nada optimisme dari awak di atas pesawat.
"Kami merasa sangat baik di sini dalam perjalanan menuju Bulan," ujar astronaut asal Kanada, Jeremy Hansen. "Kemanusiaan sekali lagi telah menunjukkan apa yang mampu kita capai."
Lintasan Tanpa Titik Balik
Setelah berhasil lepas dari gravitasi Bumi, para astronaut kini berada pada lintasan "kepulangan bebas" (free return trajectory).
Ini adalah jalur mekanika orbital yang memanfaatkan gravitasi Bulan untuk "mengetapel" pesawat kembali ke Bumi tanpa memerlukan daya dorong tambahan. Secara teknis, mereka kini telah berkomitmen penuh pada misi tersebut tanpa ada jalan untuk berbalik arah.
Kru yang terdiri dari Reid Wiseman (Komandan), Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, menghabiskan jam-jam pertama mereka dengan melakukan pemeriksaan sistem.
Meski sempat menghadapi kendala teknis minor pada sistem komunikasi dan toilet, tim berhasil mengatasinya sebelum melanjutkan agenda kebugaran harian untuk meminimalisir penyusutan otot akibat hilangnya gravitasi.
Simbol Inklusi dan Kompetisi Global
Misi Artemis II tidak hanya signifikan secara teknis, tetapi juga secara simbolis. Untuk pertama kalinya, misi menuju Bulan melibatkan perempuan, orang kulit berwarna, dan warga negara non-Amerika.
Administrator NASA, Jared Isaacman, dalam taklimat pasca-peluncuran, mengakui bahwa tekanan kompetisi global terutama ambisi China untuk mendaratkan manusia di Bulan pada 2030 menjadi salah satu motor penggerak utama.
"Kompetisi bisa menjadi hal yang positif. Hal itu memobilisasi sumber daya suatu bangsa, dan saat ini, kita jelas berada dalam kompetisi tersebut," ujar Isaacman, sebagaimana dikutip dari laporan BBC News dan Reuters.
Di tengah persiapan teknis yang intens, Komandan Reid Wiseman berbagi momen reflektif saat melihat planet asal mereka dari kejauhan.
"Anda bisa melihat seluruh bola dunia dari kutub ke kutub; Afrika, Eropa, dan jika Anda melihat lebih dekat, cahaya utara (aurora). Itu adalah momen paling spektakuler yang membuat kami berempat terdiam di tempat," kenang Wiseman dikutip The Guardian
Misi 10 hari ini merupakan fondasi bagi rencana pendaratan manusia di permukaan Bulan yang dijadwalkan pada tahun 2028, sekaligus menjadi uji coba pertama bagi roket Space Launch System (SLS) dalam membawa awak manusia menuju batas terjauh yang pernah dicapai spesies ini.
Editor: Redaktur TVRINews





