Keputusan tersebut diambil oleh perusahaan induknya, KOHL Group, yang menilai bisnis tuning otomotif semakin sulit dijalankan di tengah berbagai tekanan ekonomi dan perubahan industri.
AC Schnitzer selama ini dikenal sebagai salah satu tuner paling berpengaruh bagi kendaraan BMW sejak akhir 1980-an. Perusahaan tersebut kerap menghadirkan peningkatan performa, desain, serta karakter berkendara yang lebih agresif untuk berbagai model BMW di jalan raya maupun lintasan balap.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, berbagai tantangan membuat bisnis tuning semakin sulit bertahan. Baca Juga:
Tips Perawatan Mobil Listrik Usai Mudik Lebaran 2026 Biaya Pengembangan dan Regulasi Jadi Tantangan Salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan tersebut adalah meningkatnya biaya pengembangan komponen modifikasi, serta kondisi pasar global yang tidak stabil. Selain itu, perusahaan juga menghadapi masalah rantai pasok yang tidak menentu dan dampak tarif perdagangan internasional yang memengaruhi distribusi produk. Tantangan lain datang dari proses regulasi di Jerman yang dinilai lambat sehingga membuat produk aftermarket sulit masuk pasar dengan cepat.
Managing Director AC Schnitzer, Rainer Vogel, mengakui keterlambatan tersebut berdampak langsung pada daya saing perusahaan. “Jika kami menghadirkan komponen aftermarket ke pasar delapan atau sembilan bulan lebih lambat dibandingkan kompetitor, itu sudah menjelaskan segalanya,” kata Vogel.
Ia menambahkan bahwa ketika produk akhirnya tersedia, banyak pelanggan sudah lebih dulu membeli produk dari perusahaan lain. Perubahan Tren Modifikasi dan Era Kendaraan Listrik Selain faktor ekonomi dan regulasi, perubahan tren dalam dunia otomotif juga memengaruhi industri tuning.
Budaya modifikasi yang dahulu identik dengan peningkatan tenaga mesin, suara knalpot, dan modifikasi mekanis kini mulai berubah. Perusahaan seperti AC Schnitzer mengakui mereka belum sepenuhnya mampu menarik minat generasi penggemar otomotif yang lebih muda. Baca Juga:
Modifikasi Toyota Hilux Rangga di Thailand, Ada 'Nuansa' Brabus
Peralihan menuju kendaraan listrik juga menjadi tantangan tersendiri. Industri tuning selama ini sangat bergantung pada mesin pembakaran internal yang memungkinkan berbagai peningkatan performa mekanis.
Pada kendaraan listrik, ruang modifikasi performa menjadi lebih terbatas. Beberapa tuner, termasuk AC Schnitzer, memang mencoba melakukan modifikasi desain maupun suspensi pada model listrik seperti BMW i5, namun pendekatan tersebut dinilai tidak memberikan pengalaman yang sama seperti peningkatan performa mesin konvensional. Masih Ada Peluang Bertahan Meski akan menghentikan operasi tuning, AC Schnitzer tidak langsung menghentikan seluruh aktivitas bisnisnya. Perusahaan masih akan menjual berbagai produk yang sudah ada hingga 2026, dan seluruh garansi produk tetap akan dihormati setelah periode tersebut berakhir.
Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa nama AC Schnitzer akan tetap bertahan jika ada investor atau perusahaan lain yang berminat mengambil alih bisnis tersebut.
Didirikan pada 1987 oleh Willi Kohl dan Herbert Schnitzer, AC Schnitzer memiliki sejarah panjang dalam dunia motorsport. Perusahaan ini pernah terlibat dalam ajang balap Deutsche Tourenwagen Meisterschaft (DTM), termasuk dengan mobil legendaris BMW E30 M3 pada era kejayaan balap touring car. Baca Juga:
Bugatti Hadirkan Sepeda Balap Serat Karbon Factor One
Reputasi AC Schnitzer bahkan membuat produk mereka pernah dipasarkan melalui jaringan dealer resmi BMW. Selain memodifikasi mobil BMW, perusahaan ini juga pernah mengembangkan paket tuning untuk Mini, sepeda motor, hingga Toyota Supra yang berbagi platform dengan BMW Z4.
Jika penutupan ini benar-benar terjadi tanpa adanya pembeli baru, maka berakhirnya operasi AC Schnitzer akan menandai berakhirnya salah satu era penting dalam sejarah modifikasi kendaraan BMW.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)





