Jakarta, tvOnenews.com - Lonjakan harga komoditas global menjadi bahan bakar utama kinerja ekspor Indonesia di awal 2026. Sejumlah komoditas strategis seperti nikel dan timah mencatatkan pertumbuhan signifikan, mendorong ekspor tetap tumbuh di tengah tekanan sektor lain.
Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$22,17 miliar, tumbuh tipis secara bulanan namun meningkat secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang sektor nonmigas yang tetap menjadi tulang punggung perdagangan.
Secara kumulatif Januari–Februari 2026, total ekspor mencapai US$44,32 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan yang mendominasi lebih dari 80 persen.
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso menjelaskan, bahwa lonjakan ekspor tidak terlepas dari faktor harga global yang menguat, khususnya pada komoditas unggulan.
“Peningkatan ekspor sejumlah komoditas utama tidak terlepas dari faktor harga di pasar global. Harga timah tercatat melonjak 59,87 persen dan nikel naik 13,88 persen selama Januari–Februari 2026. Peningkatan harga ini mendorong kenaikan nilai ekspor kedua komoditas tersebut,” terang Busan, dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat (3/4/2026).
Data menunjukkan ekspor timah melonjak hingga 89,01 persen, sementara nikel naik 55,97 persen. Selain itu, produk lemak dan minyak nabati juga tumbuh kuat berkat meningkatnya permintaan global.
Menariknya, meski harga minyak kelapa sawit mengalami penurunan, volume ekspor justru meningkat tajam, menunjukkan daya saing produk Indonesia tetap kuat di pasar internasional.
Dari sisi pasar, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor. Namun, pertumbuhan tertinggi justru datang dari pasar nontradisional seperti Uni Emirat Arab, Spanyol, dan Mesir.
Ekspansi ke kawasan baru seperti Asia Tengah dan Afrika Utara menunjukkan strategi diversifikasi pasar mulai membuahkan hasil, membuka peluang baru bagi ekspor Indonesia di tengah persaingan global.(agr/raa)




