tvOnenews.com - Rencana besar untuk mengubah wajah transportasi umum di Jawa Barat mulai digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Melalui program inovatif, ia berencana menghadirkan angkutan kota (angkot) berbasis listrik yang lebih nyaman, efisien, dan ramah lingkungan.
Gagasan ini tidak muncul begitu saja. Ini diungkap dari pertemuan sederhana dengan seorang sopir angkot lanjut usia bernama Pak Ruspan, yang masih aktif bekerja di usia 76 tahun.
Momen tersebut dibagikan melalui kanal YouTube resmi KDM dan langsung menyita perhatian publik.
Saat itu, Pak Ruspan terlihat sedang beristirahat di pinggir jalan karena sepi penumpang.
Dalam percakapan santai, Dedi Mulyadi menanyakan berbagai hal terkait kehidupan dan pekerjaannya sebagai sopir angkot.
“Bensinnya habis berapa?” tanya KDM.
“Rp15.000,” jawab Pak Ruspan.
Dari obrolan tersebut, terungkap bahwa angkot yang digunakan Pak Ruspan merupakan keluaran tahun 2005.
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Meski usianya sudah cukup tua, kendaraan tersebut masih digunakan untuk mencari nafkah setiap hari.
Pak Ruspan juga mengaku harus menyetor sekitar Rp70.000 per hari. Dari penghasilannya, ia biasanya hanya membawa pulang sekitar Rp50.000 hingga Rp60.000, tergantung jumlah penumpang.
Kisah hidupnya pun menyentuh. Ia kini tinggal sendiri setelah sang istri meninggal dua bulan sebelumnya, sementara anak-anaknya berada di Jakarta.
Sebelumnya, Pak Ruspan bekerja sebagai sopir PPD selama 35 tahun dan kini hanya mengandalkan pensiun sebesar Rp2,5 juta per bulan.
Meski demikian, semangatnya untuk tetap bekerja patut diacungi jempol.
Ia bahkan mulai menarik angkot sejak pukul 4 subuh setiap harinya demi mencari penumpang.
Melihat kondisi tersebut, Dedi Mulyadi merasa perlu melakukan perubahan besar dalam sistem transportasi umum, khususnya bagi para sopir angkot yang masih bergantung pada kendaraan lama dan biaya operasional tinggi.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah program kredit mobil listrik untuk para sopir angkot.
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Program ini dirancang bekerja sama dengan bank daerah, seperti Bank Jabar, dengan skema yang memudahkan, bahkan tanpa uang muka (DP).




