Antisipasi Potensi Kekeringan, Kementan Andalkan Pompanisasi

wartaekonomi.co.id
8 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan kesiapannya menghadapi potensi El Nino ekstrem yang diperkirakan mulai berdampak pada April.

Ancaman kekeringan yang dapat mengganggu produksi pangan menjadi perhatian serius pemerintah, sehingga langkah mitigasi tidak hanya disusun di atas kertas, tetapi juga difokuskan pada kesiapan teknis di lapangan.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, menekankan bahwa pengalaman menghadapi El Nino 2023 menjadi bekal penting dalam menyusun strategi saat ini.

Pemerintah memperkuat pendekatan dengan mempercepat intervensi, mengoptimalkan sarana prasarana, serta memastikan petani siap memanfaatkan bantuan yang telah diberikan.

“Pemerintah sejak 2023 hingga 2025 telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia. Ini adalah aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi kekeringan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Sabtu (4/4). 

Ia menegaskan, pompa air yang disalurkan melalui bantuan pemerintah (banpem) bukan sekadar bantuan biasa, melainkan instrumen produksi yang harus dijaga dan digunakan secara kolektif. Selain itu, kesiapan sumber air dan pengelolaan distribusi di lapangan menjadi kunci agar pemanfaatannya maksimal.

“Optimalkan pemanfaatan pompa yang sudah ada. Pastikan sumber air disiapkan, saluran diperbaiki, dan distribusi air diatur dengan baik. Ini kunci agar lahan tetap produktif meskipun tekanan iklim meningkat,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Kementan juga mengimbau petani dan pemangku kepentingan di daerah untuk mulai melakukan langkah antisipatif sejak dini. Mulai dari mengidentifikasi sumber air, memperbaiki galengan, hingga mengatur pola tanam dan pergiliran air secara efektif.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengingatkan bahwa pengalaman El Nino 2023 menunjukkan pentingnya respons cepat dalam menghadapi tekanan iklim. Saat itu, ancaman kekeringan sempat memicu rencana impor beras hingga 10 juta ton, namun berhasil ditekan melalui berbagai intervensi.

Baca Juga: Lima Langkah Strategis Kementan Hadapi Kemarau Ekstrem Periode April–Juni 2026

Baca Juga: Siap-Siap, BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Terasa Lebih Panjang

“Dulu tahun 2023 itu ada El Nino juga yang tidak kalah kerasnya, dahsyatnya. Rencana waktu itu saya masih ingat dalam Ratas kita mau impor beras 10 juta ton. Tapi dengan kerja keras, paralel, sambil kita kerja keras mengantisipasi El Nino, kita melakukan pompanisasi, irigasi, oplah, itu kita berhasil menekan impor hanya sekitar 3 juta ton,” jelasnya.

Menurutnya, kombinasi pompanisasi, perbaikan irigasi, serta optimalisasi lahan terbukti menjadi kunci dalam menjaga produksi dan ketahanan pangan nasional.

Pemerintah juga mendorong petani untuk tidak menunggu dampak datang, melainkan bergerak lebih awal dengan memanfaatkan seluruh sarana yang sudah tersedia guna menjaga produktivitas pertanian tetap stabil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arema FC Terapkan Strategi Low Block untuk Imbangi Malut United
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Aksi Warga Belgia Terjun ke Laut di Bali Berujung Dideportasi
• 15 jam laludetik.com
thumb
Profil Carmen Hearts2Hearts, Idol Kpop Asal Bali yang Kompak Pose Saranghaeyo Bareng Presiden Prabowo dan Presiden Korsel
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Pilot AS Diselamatkan Usai Jet Tempur Ditembak Iran, Satu Lagi Hilang
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Harga Emas Dunia Kembali Lesu di Tengah Eskalasi Perang Iran
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.