Terkini, Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan kesiapan menghadapi potensi El Nino ekstrem yang diperkirakan mulai berdampak pada April 2026.
Pemerintah menyiapkan berbagai langkah mitigasi dengan menitikberatkan pada percepatan intervensi, optimalisasi sarana dan prasarana pertanian, serta kesiapan petani dalam memanfaatkan bantuan pemerintah yang telah disalurkan dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Andi Nur Alam Syah, mengatakan pemerintah memberi perhatian serius terhadap potensi kekeringan yang dapat mengganggu produksi pangan nasional.
Ia menegaskan bahwa mitigasi kekeringan tidak hanya berbasis perencanaan, tetapi juga kesiapan teknis di lapangan.
Menurutnya, sejak 2023 hingga 2025 pemerintah telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia.
Bantuan tersebut menjadi aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino.
“Pemerintah sejak 2023 hingga 2025 telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia. Ini adalah aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi kekeringan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pompa air yang diberikan melalui bantuan pemerintah bukan sekadar bantuan sosial, melainkan instrumen produksi yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara kolektif oleh petani.
Selain itu, kesiapan sumber air serta pengelolaan distribusi air di tingkat lapangan juga menjadi faktor penting agar pompa dapat bekerja secara maksimal.
Kementan juga mengimbau petani dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah antisipatif sejak dini.
Langkah tersebut antara lain mengidentifikasi sumber-sumber air, memperbaiki saluran irigasi, merapikan galengan, serta mengatur pola tanam dan pergiliran air secara efektif agar lahan tetap produktif meskipun terjadi kekeringan.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengalaman menghadapi El Nino 2023 menjadi pelajaran penting dalam merumuskan strategi mitigasi saat ini.
Pada saat itu, pemerintah sempat merencanakan impor beras dalam jumlah besar akibat ancaman kekeringan, namun berhasil ditekan melalui berbagai intervensi cepat di sektor pertanian.
Menurut Amran, pompanisasi, perbaikan irigasi, dan optimalisasi lahan menjadi faktor kunci dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah tekanan iklim ekstrem.
Ia menilai langkah cepat dan kerja paralel di lapangan mampu menjaga produksi sehingga impor beras dapat ditekan jauh dari rencana awal.
Dengan potensi El Nino yang kembali menguat pada 2026, Kementerian Pertanian memastikan seluruh jajaran telah disiagakan untuk memperkuat mitigasi di lapangan.
Pemerintah juga mengajak petani untuk tidak menunggu dampak terjadi, tetapi mulai bergerak sejak dini dengan memanfaatkan seluruh sarana yang telah tersedia, terutama pompa air bantuan pemerintah dan jaringan irigasi yang ada.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian dan memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah ancaman perubahan iklim global.




