Awalnya Bilang Tak Butuh, Trump Ngaku Juga Mau Ambil Minyak Iran

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Sebuah peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran terlihat di belakang miniatur cetakan 3D Presiden AS Donald Trump dalam ilustrasi ini yang diambil pada tanggal 22 Juni 2025. (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan retorika terkait perang di Timur Tengah dengan menyatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan untuk menguasai industri minyak Iran, sambil memberi sinyal bahwa konflik kemungkinan perlu berlangsung lebih lama.

Dalam unggahan media sosial pada Jumat (3/4/2026), Trump mengatakan bisa mendapat keuntungan besar dari minyak Iran.

"Dengan sedikit waktu tambahan, kita dapat dengan mudah MEMBUKA SELAT HORMUZ, MENGAMBIL MINYAKNYA, & MENDAPATKAN KEUNTUNGAN BESAR."


"INI AKAN MENJADI 'SUMUR MINYAK MELIMPAH' BAGI DUNIA???" tambahnya.

Pilihan Redaksi
  • Iran Tembak Jatuh 2 Jet Tempur AS, Trump Beri Respons Mengejutkan
  • Trump Ajak Khamenei Gencatan Senjata, Iran Tolak Mentah-Mentah
  • 11 Update Perang Timur Tengah: Iran Ngamuk, Jet Tempur AS Jatuh

Pernyataan itu muncul di tengah ketidakjelasan mengenai bagaimana AS akan membuka Selat Hormuz, jalur energi penting yang secara efektif diblokir Iran pada awal konflik sehingga mendorong lonjakan harga energi global.

Selama beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali menjanjikan bahwa AS akan segera membuka kembali selat tersebut. Sekitar sebulan lalu, ia mengatakan kapal Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker minyak melewati jalur strategis itu.

Namun militer AS menyatakan belum siap mengawal kapal yang bergerak lambat di selat sempit tersebut karena kapal-kapal mereka dapat menjadi target mudah bagi drone dan rudal Iran. Di sisi lain, pernyataan Trump tentang kemungkinan "mengambil" minyak Iran dinilai sebagai eskalasi retorika.

Ia kembali menegaskan sikapnya pada hari yang sama dengan menulis, "PERTAHANKAN MINYAKNYA, ADA YANG MAU?" di platform Truth Social.

Menurut doktrin hukum internasional tentang Kedaulatan Permanen atas Sumber Daya Alam yang diadopsi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1962, minyak dan mineral merupakan milik negara tempat sumber daya tersebut berada.

"Pelaksanaan bebas dan bermanfaat atas kedaulatan rakyat dan bangsa atas sumber daya alam mereka harus ditingkatkan melalui saling menghormati antarnegara berdasarkan kesetaraan kedaulatan," kata resolusi tersebut, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Trump sendiri telah lama menyerukan "mengambil minyak" di negara-negara tempat AS terlibat secara militer, termasuk Irak dan Venezuela. Meski sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan terbunuh dan negara itu dibombardir setiap hari oleh AS dan Israel, sistem pemerintahan Iran tetap bertahan dan masih mengendalikan sumber daya alamnya.

Tidak ada keberadaan militer AS yang diketahui secara publik di darat di dalam Iran, dan Trump tidak memerinci bagaimana pemerintahannya berencana menguasai industri minyak negara tersebut. Di Venezuela, sejak pasukan AS menculik Presiden Nicolas Maduro pada Januari, penerusnya, Delcy Rodriguez, bekerja sama dengan pemerintahan Trump untuk menjual minyak dalam jumlah besar.

Awal pekan ini, Trump menyebut model Venezuela bisa diterapkan di Iran, tetapi memerlukan perang yang lebih lama.

"Kita bisa saja mengambil minyak mereka. Tetapi, Anda tahu, saya tidak yakin rakyat di negara kita memiliki kesabaran untuk melakukan itu, yang sangat disayangkan," kata Trump.

"Mereka ingin melihat ini berakhir. Jika kita tetap di sana, saya lebih memilih mengambil minyaknya saja. Kita bisa melakukannya dengan sangat mudah; saya lebih memilih itu. Tetapi orang-orang di negara ini seperti mengatakan, 'Menang saja. Anda menang besar, menang saja. Pulanglah.'"

Adapun sinyal terbaru Trump untuk menguasai minyak Iran tidak sejalan dengan pernyataan sebelumnya yang menegaskan bahwa AS tidak membutuhkan minyak dari Teheran.

"Kita tidak lagi membutuhkan minyak mereka atau apapun yang mereka miliki, tetapi kita berada di sana untuk membantu sekutu kita. Harga gas akan turun dengan cepat dan ekonomi kita akan segera menderu kembali seperti belum pernah terjadi sebelumnya," kata Trump dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (2/4/2026) malam.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Trump Ancam Hancurkan Pulau Kharg Jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berlangsung Khidmat, Ibadah Jumat Agung di GPIB Immanuel Jakarta | SAPA MALAM
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Daftar 10 Top Losers Pekan Ini, Saham DATA, PPRE hingga SSTM Berguguran
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
KPK Bongkar Fakta: DPR Paling Malas Sampaikan LHKPN 2026, Tingkat Kepatuhan Terendah
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Harga iPhone 17 Series Turun di Indonesia, Jadi Berapa?
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Gunung Marapi Dua Kali Erupsi, Status Masih Waspada
• 4 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.