Singapura Catat Dua Kasus Pertama Mpox Penularan Secara Lokal

tvrinews.com
13 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Nisa Alfiani

TVRINews, Jakarta

Pemerintah Singapura mengumumkan temuan dua kasus pertama penularan lokal mpox dengan varian clade 1b yang dikenal lebih ganas. Laporan tersebut disampaikan oleh Communicable Disease Agency (CDA) pada Kamis (2/4/2026).

Kedua pasien merupakan pria berusia 30 dan 34 tahun yang kini dalam kondisi stabil. Varian clade 1b yang menginfeksi keduanya diketahui memiliki tingkat keparahan lebih tinggi dibandingkan varian lain.

Menurut CDA, penularan kemungkinan terjadi melalui kontak fisik intens, termasuk hubungan seksual. Meski demikian, risiko penyebaran secara luas di masyarakat dinilai masih rendah.

“Penularan mpox umumnya terjadi melalui kontak erat yang berkepanjangan. Untuk saat ini, tingkat risiko bagi masyarakat umum masih rendah,” ujar CDA dalam keterangannya dikutip, Sabtu, 4 April 2026.

Pasien pertama tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Ia mulai merasakan gejala pada 25 Maret dan menjalani perawatan di rumah sakit pada 30 Maret. Sehari kemudian, infeksi clade 1b terkonfirmasi. Saat ini, pasien telah dipulangkan dan menjalani isolasi mandiri hingga 20 April.

Sementara pasien kedua dilaporkan memiliki riwayat perjalanan dan kontak dekat dengan kasus pertama. Gejala mulai muncul pada 26 Maret, sebelum akhirnya memeriksakan diri pada 31 Maret. Hasil pemeriksaan memastikan infeksi pada 1 April, dan pasien kini menjalani isolasi hingga 21 April.

CDA menyatakan proses penelusuran kontak masih berlangsung untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

“Kontak erat diminta memantau kondisi kesehatan. Bagi yang berisiko tinggi, akan direkomendasikan vaksin sebagai langkah pencegahan setelah paparan,” jelas CDA.

Varian clade 1b pertama kali terdeteksi pada 2023 dan sempat menyebabkan peningkatan kasus di sejumlah negara Afrika pada tahun berikutnya. Varian ini dikenal memicu gejala lebih berat dibandingkan clade 2.

Data terbaru menunjukkan terdapat tujuh kasus mpox di Singapura sepanjang tahun ini hingga 21 Maret, sementara pada 2025 tercatat 23 kasus.

Gejala mpox umumnya meliputi ruam kulit, demam, nyeri otot, sakit kepala, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Pada kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius.

CDA menegaskan vaksinasi massal belum menjadi kebutuhan saat ini, mengingat pola penularan yang terbatas.

“Vaksin tersedia bagi kelompok berisiko tinggi dan akan diperluas ketersediaannya mulai Mei,” tambah CDA.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada dengan menjaga kebersihan, menghindari kontak fisik berisiko, serta berhati-hati saat bepergian ke wilayah yang memiliki kasus mpox.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diam-Diam, Indonesia Beli 32 Pesawat Tempur dari Israel
• 17 jam lalurealita.co
thumb
Sambut Baik Arah Pembangunan 2024-2029, Ketum Logis 08: Tepat dan Berpihak pada Rakyat
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
4.769 SPKLU Beroperasi Kawal Pemudik Mobil Listrik 2026
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Ancam Keluar NATO, Ini Respon Negara Lain
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
RI Minta PBB Evaluasi Jaminan Keselamatan Pasukan Perdamaian Usai Insiden di Lebanon
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.