Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus Perdana muncul di media sosial usai menjadi korban penyiraman air keras yang dilakukan oleh sejumlah orang, yang di antara berasal dari Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS TNI).
Kemunculannya berupa rekaman suara yang diunggah akun Instagram KontraS. Andrie mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya untuk melawan teror tersebut.
"Halo kawan-kawan, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan kepada saya untuk menghadapi teror dari orang-orang pengecut," katanya dikutip pada Sabtu (4/4/2026).
Andrie menegaskan dirinya akan tetap kuat menghadapi teror yang mengakibatkan beberapa anggota tubuhnya mengalami luka bakar karena air keras.
"Saya akan tetap kuat, akan tetap tegar, tentu dengan segala dukungan penuh dari kawan-kawan sekalian. A luta continua, panjang umur perjuangan!" tutupnya.
Sampai saat ini Andrie hanya bisa dijenguk oleh pihak keluarga, kuasa hukum, dokter maupun pihak yang berkepentingan saja. Langkah ini diambil untuk memberikan pelayanan kesehatan hingga privasi sebagaimana dijamin dalam undang-undang.
Baca Juga
- Kasus Pria Paruh Baya Disiram Air Keras di Bekasi, Begini Motifnya
- 4 Prajurit TNI jadi Tersangka Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
- KontraS Desak Pembentukan TGPF Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
Di sisi lain, Kuasa Hukum Andrie Yunus, Indria Fernida mengungkapkan kondisi kliennya usai menjadi korban penyiraman air keras. Dia menyampaikan Andrie Yunus masih menjalankan perawatan intensif di RSCM, Jakarta Pusat.
Ketua Badan Pengurus KontraS itu menyampaikan perawatan yang telah berjalan lebih dari dua minggu, Andrie Yunus masih dirawat di high care unit dengan fokus penyembuhan luka bakar di tubuh dan mata. Sebagai informasi, berdasarkan keterangan RSCM, air keras yang mengenai area mata Andrie Yunus telah menyebabkan kerusakan sel pada kornea sebesar 40%.
Secara rinci Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya menjelaskan terdapat rembesan air keras di mata Andrie, di mana dampak terburuknya adalah kebutaan permanen.
"Bagian matanya ada rembesan air keras, kemarin terlambat diidentifikasi oleh tim dokter RSCM yang paling fatal adalah cacat permanen, dia tidak bisa melihat dengan utuh. Di sini saya ingin menekankan ada upaya merusak generasi muda. Dan menurut saya hal ini merupakan biadab," tegasnya, saat rapat bersama Komisi III DPR RI, Selasa (31/3/2026).





