SEMARANG, KOMPAS — Ribuan orang mengungsi akibat banjir yang melanda 9 desa pada 4 kecamatan di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (3/4/2026). Banjir terjadi lantaran jebolnya tanggul Sungai Tuntang pada tiga titik berbeda. Penambalan tanggul mulai dilakukan Sabtu (4/4/2026).
Tanggul itu jebol di Desa Trimulyo dan Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur, Jumat, sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelumnya hujan turun deras di wilayah hulu Sungai Tuntang pada Kamis malam. Debit air sungai pun meningkat. Kondisi itu membuat tanggul sungai yang terbuat dari tanah tergerus hingga akhirnya jebol dan airnya melimpas ke permukiman.
Kepala Seksi Pelayanan Desa Trimulyo, Rofiq, menyebut jarak antara tanggul sungai dan permukiman warga hanya sekitar 5 meter. Kondisi itu pun membuat warga sempat dilanda kepanikan saat tanggul jebol. Warga lalu menyelamatkan diri ke area yang lebih tinggi sebelum akhirnya dievakuasi oleh petugas gabungan dari berbagai instansi ke pengungsian.
Menurut Rofiq, ketinggian air di halaman rumah warga pada Jumat, rata-rata mencapai 1 meter. Sebagian warga yang masih terjebak di dalam rumah, dievakuasi petugas menggunakan perahu karet.
“Saat ini kondisi sudah mulai surut, ketinggian air di permukiman rata-rata 50 sentimeter. Beberapa orang sudah berani kembali ke rumah untuk bersih-bersih,” kata Rofiq saat dihubungi, Sabtu pagi.
Menurut Rofiq, kondisi tanggul Sungai Tuntang di desanya beberapa waktu terakhir memang memprihatinkan. Tanggul yang terbuat dari tanah itu disebut Rofiq sering kali longsor, terutama ketika hujan lebat.
Untuk mencegah jebolan, warga berupaya menambal tanggul yang disebutnya tidak lagi tinggi itu menggunakan bahan seadanya, seperti karung goni yang diisi dengan tanah dan batu. Apa daya, upaya itu ternyata sia-sia. Tanggul tetap jebol.
Rofiq menyebut, warga khawatir peristiwa tanggul jebol seperti pada Jumat kembali terulang ke depannya. Untuk itu, ia berharap supaya segera ada program peninggian tanggul dari pemerintah. Upaya peninggian tanggul, disebut Rofiq terakhir kali dilakukan pemerintah sekitar dua tahun lalu.
“Kemudian, perlu juga segera dilakukan normalisasi sungai. Soalnya sudah puluhan tahun sungai ini belum dinormalisasi. Kalau hanya peninggian tanggul saja tanpa normalisasi sungai, ya akan rawan luber airnya,” ucap Rofiq.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, banjir yang terjadi akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang itu membuat 9 desa di empat kecamatan terendam. Di Kecamatan Guntur, ada lima desa yang terendam, antara lain Desa Trimulyo, Sidoharjo, Tlogorejo, Turirejo, dan Sumberejo.
Selain itu Desa Ploso di Kecamatan Karangtengah, Desa Lempuyang di Kecamatan Wonosalam, serta Desa Solowire dan Sarimulyo di Kecamatan Kebonagung juga tergenang.
“Rumah yang terendam sebanyak 2.116 unit, dihuni oleh sekitar 7.606 jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 4 unit rumah roboh. Sejumlah fasilitas umum juga terdampak, seperti 29 unit fasilitas pendidikan, 18 unit rumah ibadah, dan 1 unit jembatan. Adapun, lahan pertanian seluas 671 hektar juga tergenang,” ujar Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan.
Hingga Sabtu pagi, sedikitnya 2.839 jiwa dilaporkan mengungsi pada sejumlah lokasi. Setidaknya ada 14 titik pengungsian yang disiapkan pemerintah, mulai dari di masjid, rumah warga, balai desa, kantor kecamatan, sekolah, hingga gedung koperasi.
Selain menyebabkan ribuan orang mengungsi, banjir juga disebut Bergas menyebabkan seorang bocah perempuan berusia 7 tahun hilang. Hingga Sabtu siang, operasi pencarian terhadap bocah tersebut masih dilakukan.
“Kejadian hilangnya Jumat, saat korban keluar dari rumah. Ketika sampai di halaman rumah, korban terbawa arus ke area persawahan hingga akhirnya hilang,” kata Bergas.
Menurut Bergas, rata-rata ketinggian air di lokasi banjir sudah mulai surut pada Sabtu. Namun demikian, petugas masih melakukan evakuasi tambahan terhadap warga rentan, seperti ibu hamil, balita, dan lansia yang semula memilih bertahan di rumah masing-masing.
Bergas menyebut, BPBD bekerja sama dengan berbagai instansi mencukupi kebutuhan warga yang sedang mengungsi, mulai dari kebutuhan makan dan minum, serta pemeriksaan kesehatan. Penyediaan logistik untuk menunjang kenyamanan warga selama di pengungsian juga dilakukan.
Sementara itu, Pejabat pembuat komitmen operasional dan pemeliharaan sumber daya air Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Heri Santoso mengatakan, ada tiga titik tanggul yang jebol. Dua titik jebolan berada di Desa Trimulyo dan satu titik di Desa Sidoharjo. Pada setiap titik, panjang tanggul yang jebol, disebut Heri, sekitar 20-25 meter.
Pada Jumat malam, BBWS Pemali-Juana disebut memobilisasi peralatan ke sekitar lokasi tanggul jebol, yakni tiga unit ekskavator dan satu unit dozer. Sejumlah material, seperti batu dan tanah, serta karung besar juga sudah berada di sekitar lokasi.
“Kami akan mulai dengan penutupan tanggul secara darurat. Kami tutup pakai meterial lalu diperkuat dengan pancang-pancang bambu dan glugu serta jumbo bag. Kami juga sambil memantau, kalau nanti pada saat selesai pekerjaan masih ada pergerakan, kami perkuat lagi dengan bronjong,” ucap Heri.
Situasi di sekitar tanggul yang jebol pada Sabtu siang disebut Heri cukup cerah. Sehingga, pekerjaan penutupan tanggul diharapkan bisa berjalan dengan lancar.
Selain mempertimbangkan cuaca di lokasi, petugas BBWS juga memantau cuaca di wilayah hulu. Sebab, jika di wilayah hulu hujan, debit air sungai akan meningkat dan berpotensi membahayakan petugas yang sedang melakukan pekerjaan penguatan tanggul.
Penanganan yang bersifat permanen, termasuk normalisasi sungai, seperti yang diharapkan warga, menurut Heri, kemungkinan tidak bisa langsung dilakukan. Sebab, hal itu perlu kajian mendalam dan anggaran yang tidak sedikit.





