Bandung, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi menyikapi keluhan dari seorang warga yang dipersulit membayar pajak kendaraan bermotor (PKB).
Melalui akun TikTok Deni Priaone, Deni memperlihatkan momen ia ingin membayar pajak kendaraan diduga di sebuah Samsat di Jabar.
Dalam video viral itu, Deni geram. Ia merasa sangat dipersulit ketika ingin memenuhi kewajibannya melalui PKB.
Ironisnya, Deni diminta untuk membayar uang tambahan sebesar Rp700.000. Permintaan itu dinilai tidak masuk akal sehingga ia mengeluh kepada Dedi Mulyadi.
"Harus bayar Rp700 ribu katanya Pak Dedi. Gimana ini Pak Dedi atuh, mas bayar pajak aja dipersulit," ungkap Deni menggunakan bahasa Sunda dilansir tvOnenews.com dari TikTok pribadinya, Sabtu (4/4/2026).
Detik-detik Warga Jabar Ditodong Rp700 Ribu saat Bayar Pajak Kendaraan- TikTok/@denipriaone
Dalam video selanjutnya, ia menunjukkan saat momen ia sedang melakukan proses administrasi pembayaran pajak. Kala itu seorang petugas sedang memegang data kepemilikan kendaraannya.
Oknum petugas itu meminta Deni membayar Rp700 ribu untuk menembak KTP. Sebab, data kepemilikan kendaraan itu bukan atas nama dirinya.
"Kekurangannya data kepemilikan Pak, kalau perpanjang 5 tahun harus ada Ibu Karyati ini yang sesuai dari domisili Bandung Barat," ucap seorang petugas.
Deni semakin resah. Ia meminta bantuan kepada polisi lain. Sayangnya ia mendapat penjelasan serupa karena pontesi membayar pajak yang dibutuhkan cukup mahal.
"Yang ini agak mahal pak, ini sudah cek pajaknya? ini pajak (kendaraan) segini (Rp218.500) nambahnya 700 ribu (KTP pemilik kendaraan asli)," terang seorang polisi kepada Deni.
Respons Tegas Dedi MulyadiVideo keluhan Deni sampai di telinga Dedi Mulyadi. Gubernur Jabar berterima kasih kepada Deni yang sudah berani mengadu keluhannya.
Menurut KDM sapaan akrabnya, jika tidak ada keluhan yang viral tersebut, ia tidak akan mengetahui persoalan warga Jabar kerap kali kesulitan membayar pajak kendaraan.
KDM mewakili Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar langsung menindaklanjuti aduan tersebut. Baginya, fenomena seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.




