FAJAR, SOLO – Jagat maya kembali dihebohkan dengan rekaman video asusila yang melibatkan sepasang muda-mudi di sebuah kedai makanan populer di Solo. Video viral berdurasi 1 menit 18 detik tersebut viral setelah memperlihatkan aksi tak pantas di ruang publik, tepatnya di lantai dua sebuah warung dimsum.
Meski pelaku sempat menyadari keberadaan kamera pengawas, mereka gagal menutupi jejak karena kecanggihan teknologi CCTV yang digunakan pemilik usaha. Kini, setelah identitasnya terpojok oleh kecaman netizen, pelaku mulai muncul dan melayangkan permohonan maaf.
Tiga Jam di Blind Spot
Peristiwa memilukan ini terjadi di kedai PPAI Dimsum Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Solo. Berdasarkan data rekaman, pasangan tersebut datang sekitar pukul 11.30 WIB dan menghabiskan waktu hingga tiga jam di lokasi. Mereka sengaja memilih lantai dua yang sepi untuk melancarkan aksinya.
Menariknya, pelaku pria sempat mencoba mengakali situasi dengan menggeser arah kamera. Namun, ia tidak menyadari bahwa CCTV tersebut memiliki fitur motion tracking (pelacak gerakan).
“Mereka datang, si cowok melihat CCTV dan sempat memindah CCTV agar mereka berada di blind spot. Tapi CCTV saya mengikuti gerak orang, ketika mereka bergerak CCTV balik,” tulis pengelola PPAI Dimsum dalam unggahan yang viral.
Pemilik usaha, Radya, mengaku sangat terkejut saat memeriksa detail rekaman dari awal hingga akhir. Menurutnya, aksi tersebut dilakukan secara bertahap selama berjam-jam.
“Saat aku cek dari mereka datang sekitar jam 11.30 WIB sampai jam 14.30 WIB, itu ada part-partnya (yang lebih parah),” ungkap Radya kepada media.
Kekecewaan Pemilik
Pihak pengelola kedai menegaskan bahwa unggahan video tersebut bukan bertujuan untuk mempermalukan secara personal, melainkan sebagai peringatan keras agar etika di ruang publik tetap dijaga. Mereka merasa geram karena tempat mencari nafkah justru dijadikan lokasi tindakan asusila.
“Mas mbak, jujur minpai gak mau ikut campur masalah ini. Tapi tolong banget dong, jangan kotori tempat usaha kami, tempat dimana banyak orang mencari rezeki,” tulis caption resmi akun warung dimsum tersebut.
Selain faktor moral, pemilik juga merasa khawatir akan dampak spiritual dan citra bisnis terhadap lingkungan sekitar.
“Saya tidak ada dendam dan masalah apapun, tapi saya kesal tempat usaha saya dinodai. Terlebih menurut kepercayaan saya ketika ada perilaku zina, tetangganya kena. Takutnya berimbas pada usaha kami,” lanjutnya.
Permintaan Maaf Lewat Second Account
Setelah gelombang kecaman membanjiri media sosial, salah satu pelaku akhirnya menghubungi pihak kedai melalui pesan singkat (Direct Message). Namun, tindakan ini justru memicu kritik baru karena pelaku menggunakan akun palsu atau second account, bukan akun asli.
Dalam pesannya, pelaku memohon agar video tersebut tidak disebarluaskan lebih jauh.
“Terkait dengan postingan tersebut dari kami mohon tolong untuk mboten di sebari luas di media mas/mba admin. Dari kami mohon maaf dan bener-bener maaf tidak melihat tempat melakukan tindakan yang kurang enak buat dilihat orang-orang mas/mba,” tulis sang pelaku dalam pesannya.
Meskipun permintaan maaf telah disampaikan, pemilik usaha berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku usaha lain untuk lebih rutin mengecek sudut-sudut tersembunyi di lokasi bisnis mereka.
Kini, kasus ini menjadi pengingat bagi publik bahwa ruang publik bukanlah ruang privat, apalagi di tengah kepungan teknologi pengawasan yang semakin canggih. Bagaimanapun, etika dan norma kesopanan tetap menjadi benteng utama dalam bermasyarakat. (*)





